SINGKAWANG, ZONAKALBAR.COM – Dosen Pascasarjana UNISMA Malang, Dr. KH. Syamsu Madyan, LC., MA, juga merupakan Pembina Harakah Institute, menyampaikan kajian mendalam bertajuk “Ngaji Roh dan Peta Perjalanan Akhirat”. Kajian spesial ini merupakan bagian dari program Spiritual Urban Sufism yang digelar di Masjid Raya Singkawang pada hari Rabu, (22/10/2025).
Baca juga:UNISMA Usung Pendidikan Multikultural dalam Seminar Moderasi Beragama di Singkawang
Baca juga:Jadi Kota Toleransi, Singkawang Prototipe Membangun Ekosistem Penguatan Moderasi Beragama
Di hadapan para jamaah, Dr. KH. Syamsu Madyan menggarisbawahi perbedaan krusial antara ibadah dan mujahadah. Menurutnya, mujahadah yang berarti komitmen dan disiplin tinggi dalam beribadah adalah jalan yang lebih cepat untuk mendekatkan diri kepada Allah, berbeda dengan ibadah biasa yang seringkali dilakukan hanya saat ada kesempatan.
Mengutip dari kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah Sakandari, beliau menjelaskan sebuah konsep spiritual yang tinggi, di mana para ahli makrifat (orang-orang yang mengenal Allah) terkadang memilih untuk tidak berdoa sebagai bentuk adab. Hal ini didasari keyakinan penuh bahwa Allah Maha Mengetahui segala hajat dan kebutuhan hamba-Nya, sehingga fokus utama mereka adalah bersyukur dan ridha atas segala ketetapan-Nya.
Baca juga:Kabinet Prabowo Sudah Setahun, Menteri AHY Jadi Bintangnya!
Dr. KH. Syamsu Madyan juga menyoroti bahaya dari banyaknya keinginan duniawi yang justru sering menjadi sumber kesedihan dan “siksa” batin bagi manusia. “Manusia diberi nafsu sebagai organ roh yang tak henti-hentinya memunculkan hasrat, namun seringkali keinginan tersebut berbeda dengan kehendak Allah,” jelasnya.
Oleh karena itu, salah satu bentuk latihan spiritual (riyadhah) yang penting adalah berusaha mengurangi hajat, karena di situlah letak kenikmatan hidup yang sejati.
Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa roh manusia yang berasal dari Allah membawa serta sifat-sifat “ketuhanan” dalam skala kecil, seperti kehendak dan rasa ingin dilayani. Karena itulah zikir terbaik, La ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah), berfungsi untuk menegaskan kembali bahwa satu-satunya Tuhan yang patut disembah hanyalah Allah, bukan hawa nafsu atau keinginan diri sendiri. Dalam konteks ini, mengeluh atas takdir dianggap sebagai dosa besar karena secara tidak langsung sama dengan menolak ketetapan Allah.
Baca juga:Momen Haru dan Membagakan Wisudawan STAI Mempawah Tahun 2025-2026
Kajian ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal Facebook NU Khatulistiwa ini terselenggara atas dukungan dari program Kandidat Doktor Mengabdi UNISMA Malang dan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kalimantan Barat.

