Profil KH. Anwar Manshur: Ulama Sepuh Penjaga Tradisi Pesantren dan Moral Bangsa

ZONA KALBAR – Di tengah kontroversi terkait tayangan Xpose Uncensored Trans7 yang menyinggung kehidupan pesantren, nama KH. Anwar Manshur kembali menjadi perbincangan. Namun, di luar polemik tersebut, beliau adalah sosok ulama sepuh yang sangat dihormati oleh berbagai kalangan, mulai dari santri hingga pejabat tinggi negara.

Dikenal dengan sebutan Mbah Anwar, ia adalah pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, yang dianggap sebagai guru besar moral bangsa sekaligus penjaga tradisi ilmu pesantren. Kepribadiannya yang tenang, khidmat, dan konsisten dalam mengajar membuatnya menjadi figur penting dalam dunia pesantren Nahdlatul Ulama (NU) dan Islam di Indonesia.

BACA JUGA: Fatayat NU Kalbar Peringati Maulid Nabi dan Hari Santri

Lahir pada 1 Maret 1938, KH. Anwar merupakan cucu dari pendiri Pesantren Lirboyo, KH. Abdul Karim, dan putra dari KH. Manshur Jombang serta Nyai Salamah. Warisan keluarga ini menempatkannya sebagai penerus perjuangan ilmu dan tradisi keislaman klasik.

Pendidikan awalnya ditempuh di pesantren besar seperti Pacul Gowang dan Tebuireng Jombang, sebelum akhirnya kembali ke Lirboyo mengabdikan diri sebagai pengajar. Di usianya yang sudah 87 tahun, beliau masih rutin mengajar kitab kuning setiap pagi, seperti Kitab Dalailul Khairat, dengan disiplin dan kelembutan khas pesantren.

Santri dan alumni mengenang beliau sebagai sosok yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga adab dan kesabaran, dengan rutinitas yang meliputi shalat tahajud dan mengajar hingga tengah hari tanpa jeda.

BACA JUGA: Kiai Imam Sibawaihin, Moderisasi Beragama Dalam Kegiatan PBAK STAI Mempawah

KH. Anwar Manshur memiliki karisma yang mengukuhkannya sebagai tokoh penting dalam NU. Ia dikenal dekat dengan sejumlah kiai khos seperti KH. Maimoen Zubair, KH. Asep Saifuddin Chalim, KH. Abdul Hamid Pasuruan, dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kedekatan ini mencerminkan posisi strategis Lirboyo sebagai pusat keilmuan dan moral NU di Jawa Timur.

Banyak tokoh politik berlatar NU sering berkunjung ke Lirboyo, termasuk mantan Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin, Ketua PBNU KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dan Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Imin).

Dalam sebuah kunjungan, Presiden Prabowo Subianto pun menunjukkan penghormatan dengan menundukkan diri dan mencium tangan KH. Anwar, sebuah simbol penghormatan sekaligus gambaran posisi beliau sebagai panutan moral bangsa.

BACA JUGA: Politisi PKB Asal Pontianak Kecam Tayangan Trans7, Tak Cukup Minta Maaf

Bagi para elite NU dan pejabat negara, Pesantren Lirboyo bukan hanya lembaga pendidikan, melainkan pusat spiritual dan moral yang menjadi sumber legitimasi nilai dalam gerakan kebangsaan NU. Doa dan restu KH. Anwar kerap dimintai menjelang keputusan politik penting.

Pada Konferwil NU Jawa Timur 2024, KH. Anwar terpilih secara aklamasi sebagai Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, menggantikan KH. Marzuki Mustamar. Penunjukan ini dianggap sebagai penghormatan atas keteguhan dan sikap istiqamah beliau, yang jauh dari nafsu jabatan.

Sebagai Rais Syuriyah, Kiai Anwar mengedepankan sikap sejuk dan persatuan, mengajak umat untuk mengelola perbedaan dengan adab dan bukan kemarahan. Ia sering mengingatkan bahwa pesantren mengajarkan keseimbangan antara kesantunan rakyat dan kelahiran pemimpin berwibawa.

BACA JUGA: Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo Kediri: Jejak Ulama dan Kontribusi Pendidikan

Selain itu, beliau mendirikan Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiat Lirboyo sebagai bentuk perhatian terhadap pendidikan perempuan, meyakini bahwa kemajuan bangsa harus dibarengi dengan pembinaan ilmu dan adab untuk laki-laki dan perempuan.

Polemik tayangan Trans7 justru menegaskan betapa besar pengaruh KH. Anwar dalam menjaga martabat pesantren. Ribuan santri, alumni, dan masyarakat membela beliau bukan karena kultus individu, tapi karena penghormatan terhadap nilai-nilai keikhlasan, ilmu, dan kehormatan yang diwakilinya.

Di era digital dan modernisasi, KH. Anwar Manshur tetap menjadi sosok penyejuk yang menanggapi segala kontroversi dengan ketenangan khas ulama sejati, menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar institusi pendidikan, tapi benteng peradaban bangsa.

BACA JUGA: Kiai Imam Sibawaihin, Moderisasi Beragama Dalam Kegiatan PBAK STAI Mempawah

Pesan beliau dalam tausiyah Ramadan lalu menegaskan komitmen untuk terus berbuat baik demi kemaslahatan umat tanpa mengharap balas jasa.

Kini, di bawah asuhan KH. Anwar, Pesantren Lirboyo tetap menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Indonesia dengan lebih dari 35 ribu santri dari berbagai daerah. Sosok beliau mencerminkan keseimbangan antara kesalehan spiritual, kearifan budaya, dan keteguhan kebangsaan—nilai yang sangat relevan di tengah tantangan sosial saat ini.

KH. Anwar Manshur bukan hanya ulama besar NU, melainkan juga penjaga akhlak bangsa, tempat para tokoh mencari arah moral di tengah kompleksitas zaman modern.

Itulah artikel mengenai Profil KH. Anwar Manshur: Ulama Sepuh Penjaga Tradisi Pesantren dan Moral Bangsa.

IKUTI ZONA KALBAR COM DI GOOGLE NEWS / BERLANGGANAN ZONA KALBAR COM MELALUI WHATSAPP