Oleh: M. Syainullah
Bayangkan jika anda adalah seorang mahasiswa yang berjuang di garis depan, lantang menolak ketidakadilan, dan berdiri bersama rakyat kecil. Lalu tiba-tiba anda diberi kuasa, diberi legitimasi untuk mengatur, mengendalikan, bahkan menghukum. Philip Zimbardo dalam penelitiannya yaitu Stanford Prison Experiment (1971) menunjukkan betapa cepatnya manusia biasa berubah ketika diberi peran kekuasaan.Pada Agustus 1971, psikolog Philip Zimbardo bersama timnya merekrut 24 mahasiswa yang sehat secara psikologis, lalu membagi mereka secara acak menjadi “sipir” dan “tahanan.”
Baca juga: Demokrasi yang Ditarik ke Ruang Elite
Eksperimen ini, yang semula direncanakan berlangsung dua minggu, harus dihentikan hanya dalam enam hari. Alasannya sederhana namun mengerikan dimana para sipir menjadi begitu larut dalam perannya dimana berubah menjadi otoriter dan kejam, sementara para tahanan menunjukkan tanda-tanda trauma, depresi, dan kehilangan identitas.
Philip Zimbardo menulis: _“Situational forces can overwhelm individual dispositions, turning ordinary people into perpetrators of cruelty”_ (Zimbardo, 1973). Eksperimen ini adalah alegori tentang bagaimana kekuasaan dapat mengikis empati dan mengubah idealisme menjadi dominasi.
Baca juga: Terungkap Diduga Dalang Kerusuhan Demonstran, Riza Chalid jadi Sorotan
Selaras dengan bukunya George Orwell yaitu _Animal Farm_ (1945) yang begitu menggambarkan hal yang sama melalui alegori politik. Hewan-hewan yang semula berjuang melawan penindasan manusia akhirnya melahirkan tirani baru. Kutipan ikoniknya, _“All animals are equal, but some animals are more equal than others”,_ adalah peringatan bahwa perjuangan tanpa kontrol moral akan melahirkan oligarki baru. _Stanford Prison Experiment_ memperlihatkan mekanisme psikologisnya, sementara _Animal Farm_ memperlihatkan alegori politiknya. Keduanya menegaskan bahwa kekuasaan, jika tidak dikawal oleh kompas moral yang baik, akan mengubah pejuang menjadi penindas.
Baca juga: Cabor Tarung Derajat Porprov Kalbar Mulai Digelar
Pesan ini ditujukan dengan kerasa kepada seluruh aktivis yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). GMNI lahir dari semangat *marhaenisme*, semangat untuk membela rakyat kecil dari penindasan terstruktur baik secara ekonomi maupun politik. Namun sejarah dan eksperimen sosial diatas mengingatkan kita bahwa aktivis yang memegang kuasa rawan jatuh ke dalam pelukan kekuasaan itu sendiri. Aktivis yang semula anti-oligarki bisa perlahan berubah menjadi bagian dari oligarki, menindas rakyat yang dulu mereka perjuangkan. Hannah Arendt dalam _The Origins of Totalitarianism_ (1951) menekankan bahwa kekuasaan tanpa kontrol moral melahirkan banalitas kejahatan yaitu orang-orang biasa melakukan kejahatan karena tunduk pada sistem. Sekali lagi, pesan ini adalah peringatan bagi kader GMNI yang kini berada dalam lingkaran kekuasaan.
Baca juga: Menakar Ulang Peran Mahasiswa dalam Peta Kekuasaan Demokrasi Demagogi
Menjadi aktivis berarti berdiri di garis tipis antara bertahan pada kebenaran atau menyerah pada godaan kekuasaan. Zimbardo menunjukkan bahwa struktur peran dapat mengubah orang biasa menjadi pelaku kekerasan, dan Orwell menunjukkan bahwa perjuangan yang tidak mendasarkan pada kompas moral yang baik dapat melahirkan tirani baru. Jeffrey A. Winters dalam _Oligarchy_ (2011) menegaskan bahwa oligarki bertahan bukan hanya karena kekayaan, tetapi karena adanya elite baru yang masuk ke dalam sistem dan memilih untuk mempertahankannya. Jika aktivis tidak berhati-hati, mereka akan menjadi “sipir” baru dalam penjara sosial, atau “babi” baru dalam ladang kekuasaan.
Oleh karena itu, kader-kader GMNI harus menjadikan eksperimen Stanford dan Animal Farm sebagai cermin, dimanapun dan sebesar apapun godaan itu pasti tetap ada dan baiknya kita harus kembali pada khitah awal kenapa kita harus berGMNI? Renungkan kembali! Aktivisme sejati bukan hanya soal merebut kuasa, tetapi menjaga agar kuasa tidak merusak kemanusiaan. Aktivis harus menolak banalitas kekuasaan, menjaga empati, serta merawat dan memastikan bahwa perjuangan tidak akan pernah bergeser dari kepentingan akar rumput 1 centipun. Meritokrasi dan epistokrasi dimana pemerintahan oleh mereka yang berpengetahuan dan berintegritas bahkan harus menjadi cita-cita, agar rakyat tidak lagi menjadi “tahanan” dalam penjara oligarki. Karena pada akhirnya, keberanian sejati bukanlah merebut kuasa, melainkan menjaga agar kuasa tidak mengkhianati rakyat kecil yang menjadi alasan perjuangan itu sendiri.**


