ZONA KAKBAR COM – Malam pergantian tahun biasanya identik dengan gemuruh. Langit yang gelap seketika menjadi kanvas warna-warni, diiringi suara letupan kembang api yang bersahutan. Namun, di penghujung tahun ini, ada panggilan kemanusiaan yang mengetuk hati nurani kita lebih keras daripada suara ledakan mana pun.
Saat kita bersiap untuk merayakan, saudara-saudara kita di Sumatera sedang berada dalam kondisi yang tidak mudah. Di sana, suasana mungkin masih diselimuti duka, kecemasan, atau perjuangan untuk bangkit kembali. Dalam konteks ini, membakar kembang api bukan lagi simbol sukacita, melainkan sebuah ironi. Suara ledakan yang bagi kita adalah hiburan, bisa jadi terdengar menyakitkan bagi mereka yang sedang membutuhkan ketenangan dan doa.
Melihat situasi ini, sebuah himbauan bijak muncul: Tahun ini, mari kita tiadakan kembang api. Tanggapan Muhammad Salrus
Menanggapi himbauan tersebut, Muhammad Salrus memberikan dukungan penuh. Ia memandang kebijakan untuk tidak menyalakan kembang api bukan sebagai pembatasan kebahagiaan, melainkan sebagai wujud tertinggi dari rasa persaudaraan. Dalam tanggapannya, Muhammad Salrus menegaskan:
”Tidak elok rasanya jika langit kita bising oleh pesta pora, sementara langit saudara kita di Sumatera sedang membutuhkan doa-doa yang tulus. Kebijakan ini adalah langkah yang sangat tepat. Ini adalah momen bagi kita untuk mengubah ‘hura-hura’ menjadi ‘muhasabah’ (introspeksi).”
Beliau juga menambahkan perspektif sosial yang kuat. Menurut Salrus, dana yang biasanya hangus terbakar di langit dalam hitungan detik, akan jauh lebih bermakna jika dialihkan menjadi bantuan nyata.
”Daripada membakar uang menjadi asap yang hilang dalam sekejap, lebih baik kita ulurkan tangan. Kembang api hanya memberi kepuasan mata sesaat, tapi kepedulian kita bisa memberi harapan hidup yang panjang bagi saudara-saudara di Sumatera,” pungkasnya.
Maka, mari kita sambut tahun baru ini dengan cara yang berbeda. Biarkan langit malam tetap hening dari ledakan, namun ramai oleh lantunan doa. Mari kita tunjukkan bahwa kebahagiaan kita tidak dibangun di atas ketidakpedulian terhadap duka orang lain.
Bersama Muhammad Salrus dan seluruh elemen masyarakat, kita sepakat: Malam ini tanpa kembang api, demi solidaritas untuk Sumatera.
Poin-Poin Penting dalam Narasi:
Empati Kemanusiaan: Menggeser fokus dari perayaan fisik ke solidaritas emosional.
Efisiensi Dana: Mengubah pengeluaran konsumtif (kembang api) menjadi produktif (donasi/bantuan), sebagaimana ditekankan oleh tokoh.Perspektif Tokoh: Menempatkan Muhammad Salrus sebagai figur yang bijak dan mendukung penuh langkah ini demi kemaslahatan bersama.
PENULIS: Muhammad Salrus Adalah Mahasiswa Hukum Tata Negara IAIN Pontianak
Penulis
Bung Zu
Bung Zu bukan nama asli. ia lahir di Kubu Raya. ia mimiliki hobi munulis semenjak Kuliah. Beberapa Karya tulisnya pernah terbit di media lokal.