Oleh: Vinsensius, S.Fil., M.M.
ZONAKALAR.COM,OPINI – Banyak keluarga di Kalimantan Barat saat ini harus berpikir lebih cermat dalam mengatur pengeluaran. Kebutuhan rumah tangga terus bertambah, biaya pendidikan anak semakin besar, biaya kesehatan perlu dipersiapkan, sementara berbagai kebutuhan lainnya juga tidak dapat dihindari. Di kota maupun di pedalaman, banyak keluarga berusaha menyesuaikan penghasilan yang dimiliki dengan kebutuhan yang terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada September 2025 masih terdapat sekitar 322,54 ribu penduduk miskin di Kalimantan Barat atau sekitar 5,97 persen dari jumlah penduduk. Angka ini memang menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tetapi juga mengingatkan bahwa masih banyak masyarakat yang hidup dengan ruang ekonomi yang terbatas. Dalam situasi seperti ini, kemampuan mengelola keuangan pribadi menjadi semakin penting bagi setiap keluarga.
BACA: Demokrasi yang Ditarik ke Ruang Elite
Tantangan Ekonomi yang Dihadapi Masyarakat Kalimantan Barat
Bagi sebagian besar masyarakat, kondisi ekonomi tidak diukur dari angka-angka statistik yang sering muncul dalam berita. Kondisi ekonomi lebih terasa ketika seseorang pergi ke pasar, membeli kebutuhan dapur, membayar biaya sekolah anak, atau memenuhi kebutuhan sehari-hari lainnya. Karena itu, ketika biaya hidup meningkat atau penghasilan tidak bertambah, dampaknya langsung dirasakan oleh keluarga.
Di Kalimantan Barat, tantangan tersebut dirasakan oleh berbagai kelompok masyarakat. Petani harus menghadapi naik turunnya harga komoditas. Nelayan bergantung pada kondisi cuaca yang tidak selalu bersahabat. Pedagang kecil harus bersaing di tengah perubahan pola belanja masyarakat. Pelaku usaha mikro harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan persaingan usaha yang semakin terbuka. Sementara itu, para pekerja dan karyawan juga harus menyesuaikan penghasilan yang diperoleh dengan berbagai kebutuhan keluarga yang terus bertambah.
BACA: Lentera Penggerak Demokrasi Gelar Aksi Damai Pilkada Berintegritas
Perkembangan teknologi memang membawa banyak kemudahan. Berbagai kebutuhan dapat dibeli hanya melalui telepon genggam. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Berbagai promosi dan diskon yang muncul hampir setiap hari sering kali mendorong masyarakat membeli barang yang sebenarnya belum diperlukan. Tanpa disadari, pengeluaran-pengeluaran kecil yang dilakukan secara berulang dapat mengurangi kemampuan keluarga untuk menabung atau mempersiapkan kebutuhan yang lebih penting.
Keadaan ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi keluarga tidak selalu berkaitan dengan besarnya penghasilan. Cara mengelola penghasilan yang dimiliki sering kali sama pentingnya dengan jumlah penghasilan itu sendiri.
BACA: Ekspor Sawit Satu Pintu: Ketika Negara Mengejar Devisa, Petani Menanggung Bebannya
Literasi Keuangan Masih Menjadi Pekerjaan Rumah
Di tengah berbagai tantangan ekonomi tersebut, literasi keuangan menjadi bekal yang semakin penting. Secara sederhana, literasi keuangan adalah kemampuan memahami cara menggunakan uang secara bijaksana. Literasi keuangan membantu seseorang mengambil keputusan yang tepat mengenai pengeluaran, tabungan, pinjaman, maupun perencanaan masa depan.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2025 menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 66,46 persen. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Meski demikian, hasil tersebut juga menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang perlu meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan.
BACA: Eronis! Angka Putus Sekolah di Landak Bertambah, Masalah Ekonomi hingga Pilih Kerja Sejak Dini
Kondisi ini juga dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kalimantan Barat. Masih banyak orang yang belum terbiasa mencatat pemasukan dan pengeluaran. Ada yang menggunakan pinjaman tanpa memperhitungkan kemampuan membayar kembali. Ada pula yang belum memiliki tabungan atau dana cadangan untuk menghadapi keadaan darurat. Ketika menghadapi masalah keuangan yang tidak terduga, mereka sering kali kesulitan mencari solusi karena tidak memiliki persiapan sebelumnya.
Padahal, pengelolaan keuangan yang baik tidak selalu bergantung pada besarnya pendapatan. Banyak keluarga dengan penghasilan sederhana mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik karena terbiasa merencanakan penggunaan uang. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang memiliki penghasilan lebih tinggi tetapi tetap mengalami kesulitan karena pengeluarannya tidak terkendali. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan mengelola uang merupakan keterampilan hidup yang perlu dimiliki oleh setiap orang.
BACA: Opini Penggunaan Media Digital Di Daerah Terpencil
Membangun Kebiasaan Keuangan yang Sehat
Mengelola keuangan sebenarnya tidak harus dimulai dari hal-hal yang rumit. Langkah paling sederhana adalah membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak semua yang menarik untuk dibeli harus segera dimiliki. Dengan mendahulukan kebutuhan yang lebih penting, seseorang dapat menjaga kondisi keuangannya tetap sehat.
Kebiasaan lain yang sangat membantu adalah mencatat pemasukan dan pengeluaran. Catatan sederhana di buku tulis sering kali sudah cukup untuk membantu mengetahui ke mana uang digunakan setiap bulan. Dari kebiasaan ini, seseorang dapat melihat pengeluaran yang memang diperlukan dan pengeluaran yang sebenarnya masih dapat dikurangi.
Menabung juga perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Banyak orang berpikir bahwa menabung hanya dapat dilakukan jika memiliki penghasilan besar. Padahal, kebiasaan menyisihkan sedikit uang secara rutin jauh lebih penting daripada menunggu memiliki uang yang banyak. Kebiasaan ini membantu keluarga menghadapi kebutuhan mendadak dan mempersiapkan berbagai rencana pada masa depan.
Selain itu, masyarakat perlu berhati-hati dalam menggunakan pinjaman. Sebelum memutuskan untuk berutang, penting untuk mempertimbangkan kemampuan membayar kembali. Pinjaman yang digunakan secara bijaksana dapat membantu menyelesaikan kebutuhan tertentu, tetapi pinjaman yang tidak direncanakan dengan baik justru dapat menambah beban keluarga.
BACA: Menakar Tanggung Jawab Negara di Tengah Pusaran Gurita Perdagangan Manusia
Uang sering dipandang sebagai sesuatu yang harus dicari sebanyak-banyaknya. Padahal, uang hanyalah sarana, bukan tujuan hidup itu sendiri. Tujuan yang sesungguhnya adalah kehidupan yang lebih baik, keluarga yang terurus, anak-anak yang memperoleh pendidikan yang layak, serta masa depan yang dapat dihadapi dengan lebih tenang. Karena itu, kemampuan mengelola keuangan sesungguhnya merupakan bagian dari kebijaksanaan hidup. Baik bagi keluarga yang tinggal di Pontianak, Singkawang, Sambas, Sintang, Kapuas Hulu, Melawi, Ketapang, maupun daerah pedalaman lainnya, tantangan yang dihadapi pada dasarnya sama, yaitu bagaimana menggunakan penghasilan yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan hari ini tanpa mengorbankan masa depan. Dari kebiasaan sederhana seperti mencatat pengeluaran, menabung secara rutin, dan berpikir matang sebelum berutang, ketahanan ekonomi keluarga dibangun sedikit demi sedikit. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dari langkah-langkah kecil itulah rasa aman, ketenangan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik perlahan tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Tentang Penulis: Vinsensius, S.Fil., M.M. adalah dosen pada Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak. Minat kajiannya meliputi filsafat, manajemen keuangan, literasi keuangan, dan pemberdayaan masyarakat. Selain mengajar, ia aktif menulis artikel ilmiah dan opini dengan fokus pada isu-isu pendidikan, ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat Kalimantan Barat. Baginya, ilmu pengetahuan akan lebih bermakna ketika dapat diterjemahkan ke dalam bahasa yang sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

