Oleh: Vinsensius, S.Fil., M.M.
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Dunia pendidikan, bisnis, ekonomi, hingga perbankan kini bergerak semakin cepat berkat dukungan teknologi yang mampu mengolah data dalam jumlah besar hanya dalam hitungan detik. Berbagai keputusan yang dahulu memerlukan waktu lama kini dapat dilakukan secara lebih efisien melalui bantuan sistem digital yang semakin canggih.
Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: apakah filsafat masih memiliki relevansi dalam dunia yang semakin bergantung pada data dan algoritma?
Pertanyaan ini menjadi salah satu tema refleksi dalam Workshop Humaniora bertajuk “Filsafat dan Relevansinya bagi Dunia Pendidikan Tinggi Dewasa Ini” yang diselenggarakan oleh Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo pada 26 Juni 2026. Workshop tersebut menghadirkan Dr. Mgr. Valentinus Saeng, C.P., Uskup Keuskupan Sanggau, dan Dr. Agustinus Setyo Wibowo, S.J., dosen filsafat STF Driyarkara Jakarta, sebagai narasumber utama.
Baca juga: Opini Penggunaan Media Digital Di Daerah Terpencil
Dalam sesi panel, Stanislaus Andes, S.E., M.Pd., Direktur Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, memberikan perspektif yang menarik dari sudut pandang dunia perbankan. Dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun di sektor perbankan, ia menunjukkan bahwa filsafat tidak hanya hidup dalam ruang kuliah atau diskusi akademik, tetapi juga hadir dalam berbagai keputusan penting yang diambil setiap hari di dunia kerja.
Pengalamannya memperlihatkan bahwa di balik kecanggihan teknologi, dunia keuangan tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis, kebijaksanaan dalam menilai situasi, serta pemahaman yang mendalam mengenai karakter manusia.
Baca juga: Mengelola Uang dengan Bijak di Tengah Perubahan Ekonomi Kalimantan Barat
Filsafat dan Kemampuan Berpikir Kritis
Salah satu sumbangan terbesar filsafat bagi kehidupan modern adalah kemampuannya membentuk pola pikir kritis. Filsafat mengajarkan manusia untuk tidak menerima suatu informasi secara langsung tanpa proses penelaahan. Setiap informasi perlu diuji, dipertanyakan, dan dianalisis sebelum dijadikan dasar untuk mengambil keputusan.
Dalam dunia perbankan, cara berpikir seperti ini memiliki peran yang sangat penting, khususnya dalam proses analisis kredit. Seorang analis kredit tidak hanya bertugas memeriksa dokumen atau membaca laporan keuangan. Ia harus mampu memahami situasi secara menyeluruh dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu pembiayaan.
Keputusan kredit bukan sekadar persoalan angka. Laporan keuangan yang baik belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya. Sebaliknya, terkadang seseorang yang terlihat memiliki keterbatasan secara ekonomi justru menunjukkan tanggung jawab dan komitmen yang tinggi dalam memenuhi kewajiban keuangannya.
Baca juga: Menakar Ulang Peran Mahasiswa dalam Peta Kekuasaan Demokrasi Demagogi
Karena itu, seorang analis kredit dituntut untuk melihat lebih jauh daripada apa yang tampak di atas kertas. Ia harus mengidentifikasi risiko, memahami kondisi calon debitur, serta mempertimbangkan dampak keputusan yang akan diambil.
Di sinilah filsafat menunjukkan relevansinya. Berpikir kritis membantu seseorang untuk tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan dan tidak mudah terjebak pada kesan pertama. Sebaliknya, setiap keputusan didasarkan pada pertimbangan yang matang dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap suatu persoalan.
Baca juga: Bandara Supadio Pontianak Siapkan Rute Internasional Baru, Dorong Pariwisata dan Ekonomi Kalbar
Ketika Teknologi Berhadapan dengan Karakter Manusia
Transformasi digital telah membawa perubahan besar dalam industri perbankan. Berbagai sistem berbasis AI kini digunakan untuk mempercepat proses analisis data, menghitung tingkat risiko, serta memberikan rekomendasi dalam pengambilan keputusan.
Teknologi mampu membaca ribuan data dalam waktu singkat dan menghasilkan informasi yang sangat membantu bagi lembaga keuangan. Namun, menurut Stanislaus Andes, terdapat satu aspek yang hingga saat ini belum mampu dinilai secara sempurna oleh teknologi, yaitu karakter manusia.
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa kualitas seorang calon debitur tidak dapat dinilai hanya berdasarkan data yang tersimpan dalam sistem. Untuk memahami seseorang secara lebih utuh, petugas bank tetap perlu melakukan wawancara, observasi, dan penelusuran terhadap rekam jejak yang bersangkutan.
Baca juga: Demokrasi yang Ditarik ke Ruang Elite
Melalui proses tersebut, bank berusaha memperoleh gambaran mengenai integritas, komitmen, tanggung jawab, dan kedisiplinan calon nasabah. Aspek-aspek tersebut sering kali menjadi faktor penentu apakah seseorang mampu memenuhi kewajiban kreditnya di kemudian hari.
Teknologi memang dapat membantu menyediakan data dan rekomendasi. Namun, kemampuan menilai karakter masih membutuhkan sentuhan manusia yang melibatkan pengalaman, intuisi, dan pertimbangan moral.
Pandangan ini menunjukkan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan, bukan sebagai pengganti manusia. Teknologi dapat mempercepat proses kerja, tetapi kebijaksanaan tetap menjadi unsur yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
Karakter sebagai Faktor Utama dalam Manajemen Risiko
Dalam dunia perbankan, risiko merupakan bagian yang tidak dapat dihindari. Berbagai metode analisis dikembangkan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kredit bermasalah. Namun demikian, pengalaman menunjukkan bahwa tantangan terbesar sering kali bukan terletak pada perhitungan angka, melainkan pada perilaku manusia.
Tidak jarang seseorang yang pada awalnya tampak meyakinkan, memiliki kemampuan finansial yang baik, dan menunjukkan sikap yang positif, justru mengalami perubahan perilaku setelah memperoleh akses terhadap dana pinjaman. Sebaliknya, ada pula nasabah yang secara ekonomi terlihat sederhana, tetapi memiliki komitmen yang tinggi dalam memenuhi tanggung jawabnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa manusia merupakan makhluk yang kompleks dan tidak selalu mudah diprediksi. Oleh karena itu, penilaian terhadap karakter tetap menjadi bagian penting dalam proses manajemen risiko perbankan.
Karakter yang baik mencerminkan integritas. Integritas melahirkan kepercayaan. Sementara kepercayaan merupakan salah satu fondasi utama dalam hubungan antara lembaga keuangan dan nasabah.
Karena itu, meskipun berbagai model statistik dan teknologi digital terus berkembang, aspek karakter tetap tidak dapat diabaikan. Dunia perbankan memerlukan keseimbangan antara kemampuan membaca data dan kemampuan memahami manusia.
Humaniora sebagai Penyeimbang Kemajuan Teknologi
Pesatnya perkembangan AI sering kali menimbulkan kesan bahwa hampir seluruh aspek kehidupan manusia akan dapat digantikan oleh teknologi. Namun kenyataannya, semakin maju teknologi, semakin besar pula kebutuhan akan kemampuan yang bersifat manusiawi.
Filsafat mengingatkan bahwa kehidupan tidak hanya terdiri dari data, angka, dan perhitungan matematis. Di dalamnya terdapat nilai, tanggung jawab, kebebasan, pilihan moral, dan berbagai dimensi kemanusiaan yang tidak selalu dapat diterjemahkan ke dalam algoritma.
Karena itu, dunia perbankan modern membutuhkan profesional yang tidak hanya menguasai teknologi dan analisis keuangan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami karakter manusia, serta mampu mengambil keputusan secara bijaksana.
Pengalaman yang dibagikan Stanislaus Andes memperlihatkan bahwa keputusan kredit yang berkualitas selalu lahir dari perpaduan antara pengetahuan, pengalaman, dan kebijaksanaan. Teknologi dapat membantu menghitung risiko dan mengolah informasi, tetapi penilaian terhadap integritas, kejujuran, dan tanggung jawab tetap membutuhkan manusia.
Di tengah arus digitalisasi yang semakin kuat, filsafat justru menemukan relevansinya kembali. Dunia keuangan dan perbankan tidak hanya membutuhkan kecanggihan teknologi, tetapi juga membutuhkan manusia yang mampu berpikir reflektif, bertindak etis, dan mengambil keputusan dengan penuh kebijaksanaan.
Penulis: Vinsensius, S.Fil., M.M. adalah dosen yang memiliki minat pada kajian filsafat, manajemen keuangan, perilaku keuangan (behavioral finance), dan pengembangan sumber daya manusia. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Filsafat dan Magister Manajemen bidang Keuangan, saat ini aktif mengajar serta menulis artikel populer yang menghubungkan perspektif humaniora dengan isu ekonomi, keuangan, pendidikan, dan perkembangan teknologi. Penulis berafiliasi dengan Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak.

