Para Pemuja Penguasa

ZONA KALBAR COM – Di sebuah negeri yang megah namun sunyi akan kejujuran, berdirilah istana marmer putih dengan tiang-tiang menjulang seperti ingin menyentuh langit.

Setiap pagi, halaman istana dipenuhi orang-orang berpakaian rapi, membawa senyum yang dibuat-buat dan pujian yang dihafalkan sejak malam sebelumnya. Mereka dikenal sebagai para pemuja penguasa.

Di hadapan sang penguasa, suara mereka lembut dan penuh hormat. Setiap kata sang pemimpin dianggap kebijaksanaan mutlak, bahkan ketika keputusan itu membuat rakyat kecil semakin terhimpit. Tidak ada yang berani membantah.

Baca juga: Dari Cuti Kuliah ke Panggung Wisuda: Cerita Fila dan Peran Penting Sibarani

Di ruangan besar yang dipenuhi lampu kristal, tepuk tangan selalu terdengar paling keras setelah pidato selesai, seolah gema pujian lebih penting daripada isi kebenaran.

Para pemuja itu hidup dari kedekatan dengan kekuasaan. Mereka memoles kata-kata seperti emas, menyembunyikan kenyataan pahit di balik kalimat indah. Jalan-jalan rusak disebut “proses pembangunan,” harga kebutuhan yang melambung disebut “ujian kesabaran rakyat,” dan kritik dianggap ancaman bagi persatuan.

Baca juga: Sinopsis film Sukma Cerita horor 2025

Mereka tidak lagi melihat kenyataan, melainkan hanya melihat wajah penguasa yang harus selalu tampak sempurna.

Di luar pagar istana, rakyat berjalan di bawah terik matahari dengan wajah lelah. Pedagang kecil menghitung receh, petani memandang sawah yang mulai kering, dan anak-anak belajar di bangunan reyot. Namun suara mereka tenggelam oleh sorak pujian yang terus menggema dari dalam istana.

Yang paling menyedihkan, para pemuja penguasa perlahan kehilangan nurani. Mereka tidak lagi mampu membedakan kesetiaan dengan ketakutan, penghormatan dengan penjilatan.

Dalam hati kecil mereka mungkin masih tersisa keraguan, tetapi rasa takut kehilangan jabatan dan kenyamanan membuat mereka memilih diam.

Baca juga: Perjalanan Inspiratif Melanie Perkins Menciptakan Canva

Maka negeri itu tampak megah dari kejauhan, tetapi rapuh di dalamnya. Sebab sebuah kekuasaan yang hanya dikelilingi pujian akan sulit mendengar kebenaran. Dan ketika kebenaran tidak lagi memiliki tempat, kehancuran biasanya datang tanpa suara.

IKUTI ZONA KALBAR COM DI GOOGLE NEWS / BERLANGGANAN ZONA KALBAR COM MELALUI WHATSAPP