Gus Rijal Mumazziq: Mendidik Satu Perempuan Hakikatnya Mendidik Satu Generasi

LANDAK, ZONAKALBAR.COM – Rektor Universitas Al-Falah Assuniyah (UAS) Kencong, Jember, sekaligus Wakil Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, Gus Rijal Mumazziq Z hadir untuk memberikan pencerahan mengenai pentingnya peran perempuan dan strategi penguatan organisasi dalam acara Penguatan Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) di Pondok Pesantren Nurul Islam Ngabang, Kabupaten Landak, Minggu (14/12/2025).

Baca juga:Haji Robi Pimpin DPW PSI Kalbar dan Optimis Memang Pemilu 2029

Baca juga:Penjemputan Mahasiswa PPL STAI Mempawah Tahun 2025

Dalam pemaparannya di hadapan kader Fatayat NU Ansor, dan tokoh masyarakat, Gus Rijal menekankan posisi vital perempuan dalam pendidikan serta peradaban. Ia mengutip sebuah kearifan bahwa mendidik laki-laki hanya mendidik satu manusia, namun mendidik perempuan memiliki dampak yang jauh lebih besar.

“Mendidik satu laki-laki sama halnya mendidik satu manusia. Tapi mendidik satu perempuan, hakikatnya sama dengan mendidik satu generasi,” ujar Gus Rijal.

Beliau menjelaskan sejarah mencatat bagaimana para Sahabiyah (Sahabat Perempuan Nabi) memiliki semangat juang tinggi dalam menuntut ilmu, bahkan meminta waktu khusus kepada Rasulullah SAW untuk belajar. Menurut Gus Rijal terdapat 78 sahabat perempuan yang aktif meriwayatkan hadis, kemudian ilmunya mengalir hingga generasi saat ini.

Baca juga:Rokok Ilegal di Pelabuhan Dwikora Pontianak Dibongkar Paksa Tim Gabungan

Filosofi Pohon Kelapa dalam Berorganisasi

Selain membahas peran perempuan, Gus Rijal juga berbagi strategi manajemen organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dengan Fatayat dan GP Ansor. Ia mengingatkan agar pengurus tidak perlu berkecil hati jika dari sekian banyak anggota, hanya sedikit yang aktif.

Gus Rijal juga mengutip nasihat Kiai Hamid Pasuruan melalui filosofi pohon kelapa. Dalam sebuah organisasi, tidak semua kader harus menjadi “santan” (intisari). Setiap bagian memiliki peran masing-masing.

“Walaupun aku menginginkan santan, masih ada bagian dari struktur pohon kelapa yang memiliki manfaat masing-masing. Pohon bisa dipakai untuk atap, janur dan ketupat, sedangkan batok bisa dijadikan kerajinan. Jadi manfaatkan kader sesuai potensinya, tidak semua harus jadi santan,” jelasnya.

Baca juga:PW Ansor Kalbar Desak Penegakan Hukum di Kalbar Tidak Tebang Pilih

Strategi “Sajadah” dan Kemandirian Ekonomi

Adapun tantangan kemandirian ekonomi organisasi agar tidak bergantung pada proposal, Gus Rijal membagikan inovasi program “Sajadah” atau Sampah Jadi Sedekah. Program ini mengajak kader dan masyarakat mengumpulkan barang bekas untuk dijual, yang hasilnya digunakan untuk kegiatan sosial seperti layanan ambulans gratis dan santunan kematian.

“Prinsip dalam fundraising itu harus transparan dan akuntabel. Seseorang yang layak dipercaya dalam keuangan, dia layak dipercaya dalam hal lain,” tegas Gus Rijal.

Ia juga mendorong organisasi NU di Landak untuk beradaptasi dengan era digital. Gus Rijal menyarankan agar Fatayat dan Ansor merekrut kader muda yang memiliki kemampuan editing video dan pengelolaan media sosial agar dakwah dan kegiatan NU dapat tersebar luas dan menarik minat generasi muda.

Baca juga:FKUB Kalbar Berhasil Raih Penghargaan Harmony Awards 2025

Pentingnya Khidmah

Menutup paparannya, Gus Rijal mengingatkan tentang keberkahan (barokah) dalam berkhidmat di NU. Ia meyakini bahwa siapa pun yang ikhlas mengurus NU, kehidupannya dan keluarganya akan ditata oleh Allah SWT.

“Saya tidak pernah menyaksikan pejuang NU yang ikhlas memperjuangkan Islam melalui organisasi ini, kecuali hidupnya penuh barokah. Demikian pula anak cucunya,” pungkasnya.

IKUTI ZONA KALBAR COM DI GOOGLE NEWS / BERLANGGANAN ZONA KALBAR COM MELALUI WHATSAPP