ZONAKALBAR.COM – Momentum peringatan Hari Ulang Tahun Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ke-79 menjadi ruang refleksi atas peran kader Katolik dalam menjawab perubahan zaman, tantangan sosial, serta panggilan untuk tetap hadir melayani Gereja dan masyarakat.
Anggota DPR RI Dapil Kalimantan Barat I dari Fraksi Partai Golkar, Franciscus Sibarani, menilai perjalanan panjang PMKRI selama hampir delapan dekade telah membuktikan kontribusi organisasi tersebut dalam melahirkan kader-kader yang tidak hanya kuat secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan semangat pengabdian.
Menurutnya, tantangan mahasiswa Katolik saat ini jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi, arus informasi yang cepat, menurunnya kepedulian sosial, hingga krisis nilai dan integritas menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi generasi muda.
“Di usia PMKRI yang ke-79, refleksi terpenting bukan hanya tentang sejarah panjang organisasi, tetapi bagaimana kader Katolik hari ini mampu menjawab tantangan zaman. Mahasiswa Katolik harus menjadi agen perubahan, menjaga integritas, memiliki kepedulian terhadap sesama, dan berani hadir membawa solusi bagi masyarakat,” ujar Sibarani.
Baca juga:Istighosah dan Doa Bersama Warnai Refleksi Harlah ke-66 PMII di Kalbar
Ia menekankan bahwa mahasiswa Katolik tidak cukup hanya aktif dalam ruang akademik atau diskusi intelektual, tetapi juga perlu hadir dalam realitas sosial, memahami persoalan masyarakat, serta mengambil bagian dalam pelayanan.
“Mahasiswa Katolik dipanggil untuk hidup dalam semangat pelayanan. Melayani Gereja dan masyarakat bukan dua hal yang dipisahkan. Nilai iman harus diwujudkan melalui keberpihakan kepada sesama, terutama mereka yang menghadapi keterbatasan dan ketidakadilan,” katanya.
Sibarani menilai PMKRI selama ini memiliki peran penting dalam membentuk kader yang mampu menjembatani nilai-nilai keimanan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Semangat pro ecclesia et patria atau demi Gereja dan tanah air, menurutnya, tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Baca juga:UNU Kalbar Gelar Ramah Tamah Bersama Dewan Energi Nasional Dan Walikota Pontianak
Lebih lanjut, ia mengajak kader PMKRI dan mahasiswa Katolik untuk tidak kehilangan idealisme serta semangat pengabdian di tengah budaya instan dan pragmatis yang berkembang saat ini.
“Kita membutuhkan generasi muda yang bukan hanya kritis, tetapi juga mau turun tangan, bekerja, dan mengabdi. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang lahir dari proses, memiliki empati, serta memahami arti pelayanan,” ujarnya.
Dalam refleksi HUT PMKRI ke-79, Sibarani berharap organisasi tersebut terus melahirkan kader Katolik yang peka terhadap persoalan sosial, berintegritas, mampu memimpin, serta menjadi bagian penting dalam menjaga nilai kebangsaan dan mendorong perubahan positif bagi Indonesia.
“PMKRI harus terus menjadi ruang lahirnya pemimpin yang mampu menjaga semangat kebangsaan, melayani Gereja, dan bekerja untuk kesejahteraan masyarakat. Itulah makna kaderisasi yang sesungguhnya,” tutup Sibarani.
