ZONAKALBAR.COM – Piala Dunia 2026 memasuki babak semifinal setelah Prancis memastikan tiket ke empat besar usai menyingkirkan Maroko. Memanasnya persaingan menuju partai final turut meningkatkan antusiasme masyarakat Indonesia, mulai dari ramainya perbincangan di media sosial, penyelenggaraan nonton bersama, hingga tingginya minat terhadap berbagai atribut dan merchandise bertema Piala Dunia.
Bagi Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Franciscus Sibarani, momentum tersebut tidak hanya menjadi perayaan olahraga dunia, tetapi juga kesempatan untuk membangun budaya masyarakat yang semakin menghargai kekayaan intelektual.
Menurut Sibarani, di balik kemegahan Piala Dunia terdapat ekosistem kekayaan intelektual yang sangat besar. Logo, maskot, identitas visual, desain merchandise, hak cipta, merek, hingga hak siar merupakan hasil kreativitas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan memperoleh perlindungan hukum.
“Selama ini masyarakat melihat Piala Dunia sebagai pertandingan sepak bola. Padahal, di balik setiap pertandingan ada ribuan karya intelektual yang lahir dari kreativitas, inovasi, dan investasi. Semua itu memiliki nilai ekonomi dan dilindungi oleh hukum. Karena itu, euforia Piala Dunia juga harus menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menghargai hasil karya orang lain,” ujar Sibarani.
Baca juga:Franciscus Sibarani Dukung Sertifikat Desain Industri Bisa Jadi Jaminan Akses Pembiayaan Usaha
Sebagai anggota Komisi XIII DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Hukum, Franciscus menilai edukasi mengenai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, momentum yang menarik perhatian publik seperti Piala Dunia dapat menjadi sarana yang efektif untuk memperluas literasi mengenai pentingnya perlindungan terhadap hasil karya.
Ia mengapresiasi berbagai upaya Kementerian Hukum melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual dalam memperkuat sistem perlindungan kekayaan intelektual. Berdasarkan data DJKI, tren permohonan kekayaan intelektual di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk melindungi hasil kreativitas mereka. Namun, Sibarani menilai peningkatan jumlah pendaftaran harus diiringi dengan tumbuhnya budaya menghargai karya di tengah masyarakat.
“Regulasi yang baik dan layanan pendaftaran yang semakin mudah tentu patut diapresiasi. Namun, membangun ekosistem kekayaan intelektual tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah permohonan. Yang tidak kalah penting adalah membangun budaya masyarakat untuk menghargai karya dan tidak menganggap pelanggaran hak kekayaan intelektual sebagai sesuatu yang biasa,” ujarnya.
Baca juga:Ketua PKC PMII Kalbar Tegaskan Pentingnya Profesionalisme Instruktur dalam PIW dan Rakorda 2026
Menurut Sibarani, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan semata-mata pada aspek regulasi, melainkan bagaimana menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa setiap karya memiliki nilai yang harus dihormati. Kesadaran tersebut menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya inovasi dan kreativitas nasional.
“Budaya menghargai karya harus dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ketika masyarakat terbiasa menghormati hak cipta, merek, desain industri, maupun bentuk kekayaan intelektual lainnya, maka kita sedang membangun iklim yang sehat bagi lahirnya inovasi baru,” ujarnya.
Sibarani menambahkan, penguatan budaya menghargai kekayaan intelektual juga akan memberikan manfaat langsung bagi pelaku UMKM, desainer, dan industri kreatif nasional. Dengan adanya kepastian bahwa hasil kreativitas memperoleh penghormatan dan perlindungan, para pelaku usaha akan semakin terdorong untuk berinovasi dan meningkatkan daya saing produknya.
Baca juga:Franciscus Sibarani: Bila Terbukti Melanggar, Pemerintah Harus Cabut Izin PT Mayawana Persada
Ia menilai hal tersebut sejalan dengan semangat DPR RI yang tengah menyempurnakan berbagai regulasi di bidang kekayaan intelektual, termasuk melalui pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Desain Industri. Menurutnya, pembaruan regulasi harus berjalan beriringan dengan peningkatan literasi hukum masyarakat.
“Undang-undang memberikan kepastian hukum, tetapi budaya masyarakatlah yang menentukan efektivitasnya. Karena itu, penguatan regulasi harus disertai edukasi yang berkelanjutan agar masyarakat memahami bahwa menghargai karya bukan hanya kewajiban hukum, melainkan juga bagian dari etika dan budaya bangsa,” tegasnya.
Sibarani berharap momentum Piala Dunia 2026 dapat menjadi titik awal untuk memperluas kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kekayaan intelektual. Menurutnya, bangsa yang mampu menghargai kreativitas akan lebih siap melahirkan inovasi, memperkuat industri kreatif, dan meningkatkan daya saing di tingkat global.
“Sportivitas mengajarkan kita untuk menghormati aturan. Nilai yang sama harus kita terapkan dalam kehidupan berbangsa, yaitu menghormati hasil karya dan kreativitas sesama. Ketika budaya itu tumbuh, Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk kreatif dunia, tetapi juga menjadi bangsa yang mampu melahirkan karya-karya unggul yang dihormati di tingkat internasional,” tutup Sibarani.
Penulis


- Rois Saman merupakan penulis dan editor di Zonakalbar.com yang aktif mengulas berbagai isu, mulai dari berita daerah Kalimantan Barat, politik, pemerintahan, olahraga, pendidikan, hingga informasi publik. Dengan mengedepankan akurasi, kecepatan, dan keberimbangan informasi, Rois Saman berkomitmen menghadirkan berita yang terpercaya, mudah dipahami, dan bermanfaat bagi masyarakat. Melalui Zonakalbar.com, ia turut berkontribusi menyajikan informasi terkini yang relevan bagi pembaca di Kalimantan Barat maupun Indonesia.
- Juli 13, 2026BeritaKunjungan Kerja ke Simpang Hulu, Anggota DPR RI Franciscus Sibarani Dorong Pemerintah Benahi Infrastruktur Pendidikan Desa
- Juli 13, 2026HiburanKonami Game From 1995 Returning Next Month for First Time Ever, Game Legendaris Akhirnya Rilis Globa
- Juli 13, 2026BeritaDorong Pembangunan Desa, Franciscus Sibarani Gandeng Anak Muda Kalbar Jadi Jembatan Aspirasi
- Juli 13, 2026BeritaAdmin Website Desa Kerohok Sukses Kelola Platform Digital, Jadi Inspirasi Desa Lain dalam Pelayanan Publik

