Franciscus Sibarani Buka Ruang Pengembangan Potensi Wanita Katolik di Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas dari Stasi hingga Paroki

SINGKAWANG, ZONAKALBAR.COM – Keinginan untuk turut mengembangkan potensi yang dimiliki Gereja Katolik di Kalimantan Barat menjadi salah satu alasan Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Daerah Pemilihan Kalimantan Barat I, Franciscus Maria Agustinus Sibarani, menggagas Kompetisi Paduan Suara Wanita “Suara Sibarani” Tahun 2026.

Sebagai seorang anggota DPR RI yang juga merupakan bagian dari umat Katolik Kalimantan Barat, Sibarani melihat bahwa kehidupan menggereja memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan positif.

Baca juga:Franciscus Sibarani Gelar Kompetisi Paduan Suara Wanita, Salve Regina dari Paroki St Fransiskus Asisi Singkawang Raih Juara Pertama

Baca juga:Bupati Sujiwo Komitmen Perhatikan Pesantren dan Rumah Ibadah Lintas Agama di Kubu Raya

Salah satu potensi tersebut adalah paduan suara, yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan liturgi Gereja Katolik, termasuk melalui keterlibatan kelompok perempuan dan ibu-ibu di berbagai lingkungan umat.

Melalui kegiatan “Suara Sibarani”, ia ingin memberikan perhatian pada pengembangan talenta tersebut, sekaligus menghadirkan kesempatan bagi kelompok perempuan Katolik yang selama ini aktif dalam pelayanan Gereja.

“Sebagai anggota DPR RI, saya memiliki tanggung jawab kepada masyarakat yang saya wakili. Namun, secara pribadi saya juga merasa menjadi bagian dari umat Katolik Kalimantan Barat. Saya melihat Gereja kita memiliki banyak potensi yang bisa terus dikembangkan. Salah satunya adalah paduan suara, terutama di kalangan ibu-ibu yang selama ini begitu aktif dalam pelayanan,” ungkap Sibarani.

Menurutnya, pengembangan potensi Gereja tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan berskala besar. Hal tersebut juga dapat dimulai dengan memberikan perhatian terhadap kemampuan, kreativitas, dan semangat pelayanan yang telah tumbuh dalam kehidupan umat sehari-hari.

Sibarani secara khusus menaruh perhatian kepada kelompok perempuan Katolik yang berada di stasi-stasi, termasuk di wilayah yang jauh dari pusat paroki.

Baca juga:Kunjungi BKKBN Kalbar, Sibarani Bahas Tantangan Pendampingan Keluarga

Ia melihat bahwa kelompok-kelompok tersebut juga memiliki talenta dan semangat pelayanan yang patut mendapatkan ruang untuk berkembang. Namun, kesempatan mengikuti kegiatan bersama dengan peserta dari berbagai wilayah belum tentu dapat mereka rasakan secara rutin.

Atas dasar itulah, penyelenggaraan “Suara Sibarani” dirancang agar tidak hanya melibatkan kelompok paduan suara dari pusat paroki, tetapi juga membuka partisipasi bagi kelompok perempuan Katolik dari stasi-stasi.

“Saya ingin ibu-ibu dari stasi juga mendapatkan kesempatan untuk tampil dan merasakan pengalaman mengikuti kegiatan seperti ini. Kita tahu bahwa di berbagai wilayah, termasuk daerah pedalaman, ada banyak ibu-ibu yang dengan setia melayani Gereja melalui paduan suara. Mereka memiliki kemampuan dan semangat yang perlu kita dukung agar terus berkembang,” tuturnya.

Kompetisi tersebut kemudian mempertemukan sepuluh kelompok paduan suara perempuan Katolik dari tujuh paroki di tiga wilayah, yakni Kota Singkawang, Kabupaten Sambas, dan Kabupaten Bengkayang.

Franciscus Sibarani Buka Ruang Pengembangan Potensi Wanita Katolik di Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas dari Stasi hingga Paroki

Ketujuh paroki tersebut meliputi Paroki St. Monfort Monterado, Paroki St. Pius X Bengkayang, Paroki St. Petrus Sanggau Ledo, Paroki St. Agustinus Hippo Ledo, Paroki St. Fransiskus Asisi Singkawang, Paroki St. Maria Nyarumkop, dan Paroki Kristus Raja Sambas.

Kelompok yang berpartisipasi berasal dari berbagai komunitas perempuan Katolik, antara lain Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), BUKAT, serta kelompok paduan suara perempuan lainnya yang aktif di lingkungan Gereja.

Mereka terdiri atas Cressendo Choir, Paduan Suara Maria Bundaku Sungai Betung, WKRI DPC Pusat Paroki Monterado, Paduan Suara St. Agustinus Puaje, Salve Regina, Bunda Teresa, Paduan Suara Gema Cinta, Paduan Suara Gita Matris Melayang Panjak, WKRI St. Clara Mensade, serta BUKAT Paroki St. Agustinus Hippo Ledo.

Keikutsertaan kelompok-kelompok tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan paduan suara wanita Katolik berkembang di berbagai lingkungan Gereja, tidak hanya pada tingkat paroki, tetapi juga melalui komunitas-komunitas umat yang berada di stasi.

Bagi Sibarani, kondisi tersebut merupakan potensi yang perlu terus mendapatkan perhatian.

Ia memandang bahwa pengembangan paduan suara dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi kehidupan umat. Selain meningkatkan kemampuan bermusik, kegiatan bersama juga dapat mempertemukan kelompok-kelompok yang sebelumnya jarang memiliki kesempatan untuk saling mengenal.

Baca juga:Gereja Baru di Pedalaman Landak Diberkati, Franciscus Sibarani: Jarak Boleh Jauh, Iman Umat Harus Terus Bertumbuh

Perjumpaan antarumat dari berbagai stasi dan paroki diharapkan dapat membuka hubungan persaudaraan yang tidak hanya berlangsung selama kegiatan, tetapi juga terus terpelihara ketika para peserta kembali ke lingkungan masing-masing.

“Yang saya harapkan bukan sekadar ibu-ibu datang untuk mengikuti perlombaan, kemudian pulang. Saya ingin mereka bisa saling mengenal, membangun persahabatan, dan merasakan bahwa meskipun berasal dari stasi dan paroki yang berbeda, kita tetap merupakan satu keluarga besar dalam Gereja Katolik,” kata Sibarani.

Melalui hubungan tersebut, kelompok-kelompok paduan suara diharapkan dapat saling berbagi pengalaman, memperoleh inspirasi, dan menumbuhkan motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan Gereja masing-masing.

Sibarani juga melihat kegiatan ini sebagai bentuk perhatian terhadap peran wanita Katolik yang selama ini turut menjaga kehidupan iman dan kebersamaan umat, baik melalui pelayanan liturgi, kegiatan organisasi, maupun aktivitas sosial di lingkungan Gereja

Baca juga:

Baginya, memberikan kesempatan kepada ibu-ibu untuk mengembangkan kemampuan merupakan salah satu cara untuk menghargai keterlibatan mereka dalam kehidupan menggereja.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak kelompok perempuan Katolik, terutama yang berasal dari stasi-stasi dan wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan kesempatan untuk mengikuti kegiatan lintas paroki.

“Saya berharap kegiatan ini menjadi awal yang baik. Ke depan, semakin banyak ibu-ibu dari berbagai stasi dan paroki yang bisa ikut ambil bagian. Kita ingin talenta yang mereka miliki terus berkembang, persaudaraan umat semakin kuat, dan semangat pelayanan di tengah Gereja juga terus bertumbuh,” ujarnya.

Melalui “Suara Sibarani” Tahun 2026, Franciscus Sibarani ingin menjadikan potensi yang telah tumbuh dalam kehidupan Gereja sebagai dasar untuk menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi umat.

Bukan semata-mata tentang kemampuan bernyanyi, tetapi juga tentang memberikan ruang bagi perempuan Katolik untuk berkembang, memperluas hubungan antarkomunitas, serta memperkuat rasa kebersamaan sebagai bagian dari umat Katolik Kalimantan Barat.

Penulis

Kang Rois
Kang Rois
Rois Saman merupakan penulis dan editor di Zonakalbar.com yang aktif mengulas berbagai isu, mulai dari berita daerah Kalimantan Barat, politik, pemerintahan, olahraga, pendidikan, hingga informasi publik. Dengan mengedepankan akurasi, kecepatan, dan keberimbangan informasi, Rois Saman berkomitmen menghadirkan berita yang terpercaya, mudah dipahami, dan bermanfaat bagi masyarakat. Melalui Zonakalbar.com, ia turut berkontribusi menyajikan informasi terkini yang relevan bagi pembaca di Kalimantan Barat maupun Indonesia.
Visited 1 times, 1 visit(s) today
Ringkasan Konten

Tinggalkan Balasan