Puluhan Tahun Menanti, Warga Dusun Nanga Saray Dambakan Jembatan Penyeberangan Sungai Mandai. Harapan itu terus bergema dari masyarakat yang tinggal di Dusun Nanga Saray, Desa Tapang Daan, Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Bagi sebagian orang, menyeberangi sungai melalui jembatan adalah hal biasa. Namun bagi warga Nanga Saray, perjalanan menuju ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu masih harus diawali dengan menaiki perahu untuk menyeberangi Sungai Mandai. Bahkan sepeda motor pun harus diangkut menggunakan perahu agar bisa sampai ke seberang.
Kondisi tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun tanpa adanya jembatan permanen yang menjadi dambaan masyarakat.
Baca juga:Â Kapuas Raya Kembali Menguat, Seberapa Kuat Dukungan Politik untuk Provinsi Baru di Kalbar?
baca juga:Â Cuaca Kalbar 28 Juni 2026: Langit Pontianak Diprediksi Tak Sepenuhnya Bersahabat, Ini Penjelasan BMKG
Perahu Masih Menjadi Andalan Warga
Setiap hari, aktivitas warga bergantung pada perahu penyeberangan. Mulai dari pergi bekerja, bersekolah, hingga membawa hasil pertanian ke pasar harus melewati Sungai Mandai terlebih dahulu.
Saat debit air meningkat akibat hujan, perjalanan menjadi semakin berisiko. Meski demikian, masyarakat tidak memiliki pilihan lain karena belum tersedia jembatan yang dapat menghubungkan kawasan tersebut dengan akses jalan utama menuju Putussibau.
Jalan Rusak Menambah Sulit Perjalanan
Kesulitan warga tidak berhenti setelah berhasil menyeberangi sungai.
Ruas jalan menuju Dusun Nanga Saray masih banyak yang rusak sehingga perjalanan memerlukan waktu lebih lama. Saat musim hujan tiba, sebagian badan jalan berubah menjadi licin dan berlumpur sehingga kendaraan roda dua maupun roda empat kesulitan melintas.
Kondisi inilah yang membuat mobilitas masyarakat menjadi terhambat.
Daerah Penghasil Pisang Kesulitan Memasarkan Hasil Panen
Di balik keterbatasan infrastruktur, Dusun Nanga Saray dikenal sebagai salah satu sentra penghasil pisang di Kabupaten Kapuas Hulu.
Sayangnya, hasil panen yang melimpah sering terkendala proses distribusi. Biaya angkut menjadi lebih mahal karena petani harus memanfaatkan perahu sebelum melanjutkan perjalanan melalui jalan yang belum sepenuhnya memadai.
Akibatnya, daya saing hasil pertanian warga menjadi berkurang dibanding daerah yang memiliki akses transportasi lebih baik.
Aspirasi Sudah Berkali-kali Disampaikan
Salah seorang warga, Antonius, mengatakan keinginan memiliki jembatan bukanlah aspirasi baru.
Menurutnya, masyarakat telah berulang kali menyampaikan permohonan pembangunan jembatan penyeberangan Sungai Mandai beserta perbaikan jalan kepada pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat.
Namun hingga kini, belum ada realisasi pembangunan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kami sudah sering menyampaikan usulan kepada pemerintah daerah, provinsi hingga pusat, tetapi sampai sekarang belum ada pembangunan jembatan yang kami harapkan,” ujarnya.
Infrastruktur Diyakini Mampu Menggerakkan Ekonomi
Warga meyakini pembangunan jembatan tidak hanya mempermudah aktivitas sehari-hari, tetapi juga menjadi pintu masuk peningkatan perekonomian desa.
Akses transportasi yang lebih baik akan mempercepat distribusi hasil pertanian, menekan biaya angkut, serta membuka peluang investasi dan pengembangan sektor pertanian maupun usaha kecil di kawasan tersebut.
Selain itu, pelayanan pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan logistik masyarakat juga diperkirakan akan semakin mudah dijangkau.
Sebagian Jalan Sudah Dibangun
Harapan warga sebenarnya mulai terlihat pada 2022 ketika Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu membangun ruas jalan dari Simpang Sayut menuju Desa Tapang Daan sepanjang sekitar 11,6 kilometer.
Proyek tersebut menggunakan anggaran sekitar Rp4,5 miliar.
Meski demikian, masyarakat menilai pembangunan tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan karena masih terdapat beberapa kilometer jalan yang belum ditingkatkan sehingga akses menuju Dusun Nanga Saray masih belum optimal.
Internet Sudah Ada, Jembatan Masih Dinanti
Di tengah keterbatasan akses transportasi, masyarakat kini setidaknya telah menikmati jaringan internet setelah pemerintah membangun menara telekomunikasi di wilayah tersebut.
Keberadaan jaringan komunikasi tersebut membantu aktivitas pendidikan, pelayanan publik hingga komunikasi warga.
Namun bagi masyarakat Nanga Saray, kebutuhan paling mendesak tetaplah pembangunan jembatan penyeberangan Sungai Mandai dan penyelesaian jalan menuju permukiman mereka.
Masyarakat berharap pemerintah dapat menjadikan pembangunan infrastruktur tersebut sebagai prioritas agar warga tidak lagi bergantung pada perahu untuk menjalani aktivitas sehari-hari serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah pedalaman Kapuas Hulu.
Penulis

- Ade Khairul Arya Putra adalah penulis zonaalbar.com, Media Informasi dan Jaringan Kalbar. Aktif menulis isu politik, ekonomi, pemerintahan, dan pembangunan daerah di Kalimantan Barat sejak 2026.
BengkayangJuni 28, 2026Siswa SMAN 1 Bengkayang Jadi Pembicara Terbaik, Wakili Kalbar ke NSDC Nasional 2026
Breaking NewsJuni 28, 2026Akses Terisolasi, Warga Dusun Nanga Saray Minta Pemerintah Bangun Jembatan Sungai Mandai
BeritaJuni 28, 2026Calon Manager Kopdes Merah Putih Meninggal Saat Latsarmil di Singkawang, Kemenhan Buka Suara
OlahragaJuni 28, 2026Hasil Piala Dunia Portugal vs Kolombia Skor 0-0: Cristiano Ronaldo Gagal Bawa Menang?
