Kabut Asap Paksa Anak Belajar dari Rumah, Franciscus Sibarani Minta Negara Bertindak

PONTIANAK, ZONAKALBAR.COM – Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Franciscus Sibarani, menyoroti dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali mengganggu aktivitas pendidikan di Kalimantan Barat. Di Kota Pontianak, sejumlah sekolah masih menerapkan pembelajaran secara daring karena kualitas udara belum aman untuk pembelajaran tatap muka.

Baca Juga:Franciscus Sibarani: Kalbar Kaya Sumber Daya Alam, Anak Mudanya Harus Jadi Pemain Utama

Sekolah di Kota Pontianak masih melaksanakan pembelajaran daring pada Senin (7/9), meskipun hujan telah mengguyur sejumlah wilayah. Pemerintah Kota Pontianak mengambil langkah tersebut dengan mempertimbangkan kondisi asap yang masih tebal dan kualitas udara yang belum aman bagi siswa.

Sibarani menilai keputusan tersebut merupakan bentuk kehati-hatian untuk melindungi keselamatan anak. Namun, kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa dampak karhutla telah berkembang menjadi persoalan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, termasuk keberlangsungan pendidikan anak.

“Sudah satu bulan anak-anak belum bisa kembali belajar secara normal karena kualitas udara yang membahayakan kesehatan. Ini menunjukkan bahwa dampak karhutla bukan lagi semata persoalan lingkungan. Ketika anak tidak dapat bersekolah dengan aman, ada persoalan kesehatan dan pendidikan yang harus menjadi perhatian negara,” ujar Sibarani.

Baca juga:Bahaya Kabut Asap Karhutla bagi Kesehatan, Jangan Anggap Sepele

Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Pontianak yang mengutamakan keselamatan dan kesehatan siswa dengan mengalihkan pembelajaran ke sistem daring selama kualitas udara belum aman.

Namun, menurutnya, pembelajaran daring harus diposisikan sebagai langkah perlindungan sementara, bukan sebagai pengganti penanganan terhadap persoalan yang menyebabkan anak-anak tidak dapat kembali ke sekolah.

“Belajar daring adalah keputusan yang tepat untuk melindungi anak dari paparan asap. Tetapi jangan berhenti di situ. Pemerintah harus memastikan kualitas udara segera dipulihkan sehingga anak-anak dapat kembali belajar di sekolah dengan aman,” katanya.

Baca juga:Franciscus Sibarani: 110 Tahun Nyarumkop Jadi Bagian Penting Perjalanan Pendidikan Kalimantan Barat

Sibarani meminta pemerintah pusat dan daerah memperkuat langkah penanganan karhutla sekaligus memastikan masyarakat terdampak mendapatkan perlindungan yang memadai. Menurutnya, pemantauan kualitas udara harus dilakukan secara konsisten, hasilnya disampaikan secara terbuka dan mudah dipahami masyarakat, serta kelompok rentan mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan dan perlindungan yang diperlukan.

Menurut Sibarani, keberlangsungan pendidikan juga harus menjadi bagian dari penanganan kondisi darurat. Pembelajaran daring dapat menjadi alternatif, tetapi pemerintah perlu memastikan anak-anak tetap memperoleh layanan pendidikan secara setara selama kondisi tersebut berlangsung.

“Jangan sampai upaya melindungi anak dari paparan asap justru menimbulkan kesenjangan baru dalam pendidikan. Tidak semua keluarga memiliki perangkat dan akses internet yang memadai untuk mengikuti pembelajaran daring. Karena itu, keberlangsungan pendidikan juga harus dipastikan,” ujarnya.

Ia menilai situasi di Pontianak merupakan gambaran nyata bahwa dampak karhutla dapat meluas jauh melampaui wilayah yang terbakar. Ketika kualitas udara terganggu, aktivitas masyarakat ikut terdampak, termasuk kegiatan belajar mengajar.

Baca juga:Lewat PROKASI, Franciscus Sibarani Hadirkan Pilihan Pendidikan dan Karier bagi Anak Muda Kalbar

Secara nasional, sekitar 1,4 juta siswa di enam provinsi telah beralih ke pembelajaran jarak jauh akibat kualitas udara yang buruk dari karhutla.

“Kalau sampai jutaan anak harus belajar dari rumah karena udara tidak aman, ini harus menjadi alarm bagi kita semua. Negara tidak boleh hadir hanya ketika api sudah membesar. Pencegahan, perlindungan masyarakat, dan penegakan hukum harus berjalan sejak awal,” tegas Sibarani.

Karena itu, Sibarani mendorong pemerintah untuk memperkuat tiga hal sekaligus: penanganan cepat terhadap karhutla, perlindungan masyarakat selama kualitas udara memburuk, serta pencegahan agar persoalan serupa tidak terus berulang.

Menurutnya, pengawasan terhadap wilayah rawan kebakaran, penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab, serta pemulihan lingkungan harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

“Kita tidak boleh menjadikan kabut asap sebagai sesuatu yang biasa setiap tahun. Ukuran keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya api yang padam, tetapi apakah masyarakat sudah dapat kembali beraktivitas dengan aman dan anak-anak dapat kembali belajar di sekolah tanpa terpapar udara yang membahayakan,” pungkas Sibarani.

Penulis

Kang Rois
Kang Rois
Rois Saman merupakan penulis dan editor di Zonakalbar.com yang aktif mengulas berbagai isu, mulai dari berita daerah Kalimantan Barat, politik, pemerintahan, olahraga, pendidikan, hingga informasi publik. Dengan mengedepankan akurasi, kecepatan, dan keberimbangan informasi, Rois Saman berkomitmen menghadirkan berita yang terpercaya, mudah dipahami, dan bermanfaat bagi masyarakat. Melalui Zonakalbar.com, ia turut berkontribusi menyajikan informasi terkini yang relevan bagi pembaca di Kalimantan Barat maupun Indonesia.
Visited 3 times, 3 visit(s) today
Ringkasan Konten

Tinggalkan Balasan