Kampung Melayu Tertua di Pontianak, Jejak Awal Berdirinya Kota di Tepian Sungai Kapuas

PONTIANAK – Jika berbicara tentang sejarah Kota Pontianak, maka sulit memisahkan kisahnya dari Kampung Beting, sebuah permukiman tua yang berada di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Kawasan ini diyakini sebagai salah satu kampung Melayu tertua sekaligus cikal bakal berkembangnya Kota Pontianak.

Jauh sebelum kawasan perkotaan berkembang seperti sekarang, masyarakat Melayu telah membangun kehidupan di tepian sungai. Sungai menjadi jalur transportasi utama, pusat perdagangan, hingga tempat berkembangnya budaya dan tradisi yang masih bertahan sampai sekarang.

Baca juga: Bandara Supadio Pontianak Siapkan Rute Internasional Baru, Dorong Pariwisata dan Ekonomi Kalbar

Baca juga: 10 Oleh-Oleh Khas Pontianak yang Paling Dicari Wisatawan, Lengkap dengan Alamat 

Baca juga: Wisata Kuliner Pontianak 2026: 10 Tempat Makan Legendaris dan Alamat Lengkapnya

Baca juga 10 Tempat Wisata di Pontianak yang Wajib Dikunjungi, Ada Tugu Khatulistiwa

Kampung Malayu Tertua Cikal Bakal Kota Pontianak

Sejarah mencatat, berdirinya Kesultanan Pontianak pada tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie menjadi tonggak lahirnya Kota Pontianak. Di sekitar Keraton Kadriyah kemudian tumbuh permukiman masyarakat Melayu yang kini dikenal sebagai Kampung Beting.

Nama “Beting” berasal dari kondisi geografis kawasan yang berupa daratan menjorok ke sungai atau tanjung yang dikelilingi aliran air. Letaknya yang strategis menjadikan kampung ini berkembang sebagai pusat aktivitas masyarakat sekaligus pintu masuk perdagangan di wilayah Kalimantan Barat.

Baca juga: Tak Perlu Transit Lagi! Tiket Singapura Pontianak Kini Mulai Rp1,3 Juta

Baca juga: 5 Tempat Sarapan Enak di Pontianak yang Selalu Ramai Pagi Hari, Lengkap dengan Alamat

Baca juga: Gunung Ambawang Kubu Raya: Wisata Alam Kalimantan Barat Favorit

Kampung Melayu yang Sarat Sejarah

Kampung Beting bukan sekadar kawasan permukiman tua. Di dalamnya masih berdiri sejumlah bangunan bersejarah, seperti Keraton Kadriyah dan Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman yang menjadi saksi perkembangan Islam serta kebudayaan Melayu di Pontianak.

Rumah-rumah panggung yang berdiri di atas tiang kayu menjadi ciri khas kampung ini. Bentuk arsitektur tersebut merupakan adaptasi masyarakat terhadap lingkungan sungai yang dipengaruhi pasang surut air.

Hingga kini, sebagian besar aktivitas masyarakat masih sangat dekat dengan sungai. Perahu motor atau sampan masih digunakan sebagai alat transportasi, sementara tradisi gotong royong, adat Melayu, hingga berbagai kegiatan keagamaan tetap dilestarikan.

Menjadi Warisan Budaya Pontianak

Berbagai penelitian menyebut Kampung Beting memiliki nilai sejarah tinggi karena merupakan kawasan awal perkembangan Kota Pontianak. Tidak hanya menyimpan peninggalan fisik berupa bangunan tua, kawasan ini juga mempertahankan budaya masyarakat Melayu yang hidup berdampingan dengan sungai.

Dalam perkembangannya, Kampung Beting juga mulai dikenal sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Pengunjung dapat menyusuri gang-gang kayu, menikmati suasana tepian Sungai Kapuas, hingga melihat langsung kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan tradisi turun-temurun.

Baca juga: RRI Pontianak Gelar Dialog Kebangsaan Kita Indonesia Sesungguhnya

Baca juga: DAMRI Buka Rute Pontianak-Palangkaraya Tanpa Transit Segini Harganya

Baca juga: UNU Kalbar Gelar Ramah Tamah Bersama Dewan Energi Nasional Dan Walikota Pontianak

Mengapa Kampung Beting Penting?

Sebagai kawasan yang lahir bersamaan dengan berdirinya Kesultanan Pontianak, Kampung Beting memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Kalimantan Barat. Dari kawasan inilah aktivitas pemerintahan, perdagangan, penyebaran agama Islam, hingga perkembangan budaya Melayu tumbuh dan berkembang.

Meski kini Kota Pontianak telah berubah menjadi kota modern, Kampung Beting tetap menjadi pengingat bahwa identitas Pontianak berawal dari kehidupan masyarakat sungai yang sederhana namun kaya akan nilai sejarah.

Melestarikan Kampung Beting bukan hanya menjaga bangunan tua, tetapi juga mempertahankan identitas budaya Melayu yang menjadi bagian penting dari sejarah Kota Pontianak.

Artikel ini dirangkum dari beberapa sumber oleh tim zona kalbar com, di antaranya:

Jurnal “Kebertahanan Fisik Kampung Beting sebagai Kawasan Permukiman Waterfront Heritage”, Region: Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif, 2022. Menjelaskan Kampung Beting sebagai cikal bakal permukiman pertama di Pontianak. (Jurnal Universitas Sebelas Maret)

Penelitian “Identifikasi Karakteristik dan Formasi Kampung Melayu di Kota Pontianak” (Universitas Tanjungpura), 2023. Membahas sejarah Kampung Beting, Kampung Tambelan Sampit, dan Kampung Bansir sebagai kampung-kampung Melayu di Pontianak. (ResearchGate)

Tesis “Potensi Ekowisata Berbasis Budaya Kampung Beting di Tepian Sungai Kapuas Pontianak”, Universitas Gadjah Mada. Menjelaskan Kampung Beting sebagai kawasan bersejarah yang berkembang sejak berdirinya Kesultanan Pontianak tahun 1771. (ETD UGM)

Catatan penting: Secara akademik, lebih tepat menggunakan frasa “Kampung Beting merupakan salah satu kampung Melayu tertua dan cikal bakal Kota Pontianak” daripada menyebutnya “kampung Melayu tertua” secara mutlak, karena belum ada sumber sejarah yang secara definitif menetapkannya sebagai yang paling tua dibanding seluruh permukiman Melayu lainnya.

 

Penulis

Ade Putra
Ade Putra
Ade Khairul Arya Putra adalah penulis zonaalbar.com, Media Informasi dan Jaringan Kalbar. Aktif menulis isu politik, ekonomi, pemerintahan, dan pembangunan daerah di Kalimantan Barat sejak 2026.
Visited 5 times, 5 visit(s) today