Bangunan bersejarah di Pontianak menyimpan kisah lahirnya kota di tepian Sungai Kapuas. Jelajahi Keraton Kadriyah, Masjid Jami, Kampung Beting, hingga Tugu Khatulistiwa dalam ulasan mendalam.
PONTIANAK – Bangunan bersejarah di Pontianak bukan sekadar dinding tua yang masih berdiri. Di balik kayu belian yang menghitam dimakan usia, pilar-pilar bergaya kolonial, hingga lantai yang telah diinjak ribuan orang selama ratusan tahun, tersimpan kisah tentang bagaimana sebuah kota lahir dari pertemuan dua sungai besar.
Saat matahari mulai menyentuh permukaan Sungai Kapuas, bayangkan Anda berdiri di tepian Kampung Beting. Suara mesin perahu bersahutan, angin membawa aroma sungai, dan di kejauhan tampak bangunan-bangunan tua yang tetap bertahan di tengah pesatnya pembangunan kota. Bangunan-bangunan itulah saksi bisu perjalanan Pontianak—dari sebuah pelabuhan kecil Kesultanan hingga menjadi ibu kota Kalimantan Barat.
Berikut sejumlah bangunan bersejarah yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan cerita yang membentuk identitas Pontianak.
1.Bangunan bersejarah di Pontianak Keraton Kadriyah, Tempat Lahirnya Sebuah Kota
Tak banyak kota di Indonesia yang dapat menunjuk dengan pasti lokasi kelahirannya. Pontianak termasuk salah satunya.
Keraton Kadriyah berdiri pada 1771, ketika Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie mendirikan Kesultanan Pontianak. Dari bangunan kayu berwarna kuning inilah roda pemerintahan dijalankan, hubungan dagang dibangun, dan masyarakat mulai berkembang di sepanjang tepian Sungai Kapuas.
Menariknya, keraton ini dibangun menggunakan kayu belian, jenis kayu khas Kalimantan yang dikenal sangat kuat. Sebagian besar struktur aslinya masih bertahan hingga kini, menjadikannya salah satu contoh arsitektur Melayu yang tetap lestari.
Masuk ke dalam keraton, pengunjung akan menemukan singgasana sultan, koleksi pusaka, foto-foto keluarga kerajaan, hingga benda-benda yang merekam perjalanan panjang Kesultanan Pontianak.
2.Bangunan bersejarah di Pontianak Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, Penjaga Waktu di Tepian Sungai
Hanya beberapa langkah dari keraton berdiri Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman.
Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, melainkan pusat penyebaran Islam di Pontianak sejak abad ke-18.
Bangunannya tetap mempertahankan arsitektur Melayu dengan sentuhan lokal. Tiang-tiang besar dari kayu belian menopang bangunan tanpa kehilangan kekuatannya selama lebih dari dua abad.
Setiap azan yang berkumandang seolah menjadi pengingat bahwa sejarah Pontianak selalu berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakatnya.
3.Bangunan bersejarah di Pontianak Kampung Beting, Museum yang Masih Dihuni
Jika museum biasanya dipenuhi benda koleksi, Kampung Beting justru merupakan museum yang masih hidup.
Gang-gang kayu, rumah panggung, anak-anak yang bermain di tepian sungai, hingga warga yang masih menggunakan sampan sebagai alat transportasi menjadi pemandangan sehari-hari.
Di sinilah denyut kehidupan Pontianak tempo dulu masih dapat dirasakan.
Tak heran banyak peneliti menyebut Kampung Beting sebagai salah satu kawasan paling penting dalam memahami sejarah perkembangan Kota Pontianak.
4.Bangunan bersejarah di Pontianak Gedung Bank Indonesia Lama, Jejak Ekonomi di Masa Kolonial
Berpindah ke kawasan Jalan Rahadi Usman, berdiri bangunan bergaya Eropa yang dahulu menjadi pusat aktivitas perbankan kolonial.
Gedung ini memperlihatkan bagaimana Pontianak sejak dahulu telah menjadi kota perdagangan penting yang menghubungkan pedagang dari Nusantara, Tiongkok, Timur Tengah, hingga Eropa.
Arsitektur neoklasik dengan jendela-jendela besar menunjukkan pengaruh Belanda yang masih terlihat jelas hingga sekarang.
5. Tugu Khatulistiwa, Simbol Kota yang Mendunia
Meski bukan bangunan tertua, Tugu Khatulistiwa memiliki nilai sejarah yang tak kalah penting.
Didirikan pada 1928 oleh tim ekspedisi Hindia Belanda dan kemudian disempurnakan beberapa kali, tugu ini menjadi penanda bahwa Pontianak dilalui garis khatulistiwa.
Fenomena kulminasi matahari yang terjadi dua kali dalam setahun menjadikan tempat ini terkenal hingga mancanegara.
Lebih dari sekadar objek wisata, Tugu Khatulistiwa menjadi simbol geografis yang membentuk identitas Kota Pontianak.
Di banyak kota, bangunan tua sering dianggap penghambat pembangunan. Namun di Pontianak, bangunan-bangunan bersejarah justru menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus masa lalu.
Keraton mengajarkan tentang kepemimpinan Melayu.
Masjid mengajarkan nilai spiritual.
Kampung Beting memperlihatkan bagaimana masyarakat mampu hidup berdampingan dengan sungai.
Sementara gedung-gedung kolonial menjadi saksi bagaimana Pontianak pernah menjadi simpul perdagangan penting di Kalimantan.
Bangunan-bangunan itu bukan sekadar objek wisata, melainkan lembaran buku sejarah yang masih berdiri tegak dan dapat dibaca oleh siapa pun yang ingin mengenal Pontianak lebih dekat.
Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang
Setiap generasi memiliki tanggung jawab menjaga jejak sejarahnya. Ketika bangunan tua hilang, yang lenyap bukan hanya kayu, batu, atau dinding, tetapi juga cerita tentang siapa kita dan bagaimana sebuah kota dibangun.
Di tengah gedung-gedung modern yang terus menjulang, bangunan bersejarah di Pontianak tetap menjadi penanda bahwa kota ini lahir dari keberanian para pelaut, pedagang, ulama, dan masyarakat sungai yang menjadikan Kapuas sebagai nadi kehidupan.
Mengunjungi tempat-tempat tersebut bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan perjalanan memahami identitas Pontianak—kota yang tumbuh bersama arus sungai dan tetap menjaga warisan sejarahnya hingga hari ini.**
Penulis
Ade Putra
Ade Khairul Arya Putra adalah penulis zonaalbar.com, Media Informasi dan Jaringan Kalbar. Aktif menulis isu politik, ekonomi, pemerintahan, dan pembangunan daerah di Kalimantan Barat sejak 2026.