Kemarau Panjang di Kalimantan, Franciscus Sibarani Soroti Pesan di Balik Ritual Nuba Masyarakat Adat

KETAPANG, ZONAKALBAR.COM – Kemarau panjang yang menyebabkan masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air mendorong masyarakat adat di Riam Bunut, Kecamatan Laur, Kabupaten Ketapang, melaksanakan ritual adat Nuba, sebuah tradisi turun-temurun yang bukan sekadar dilakukan untuk mencari ikan, tetapi juga menjadi bagian dari permohonan masyarakat kepada Sang Pencipta agar hujan segera turun.

Baca juga:Kabut Asap Melanda Kalbar, Jangan Panik! Ini 7 Cara Jaga Kesehatan

Tradisi tersebut mendapat perhatian dari Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Franciscus Maria Agustinus Sibarani.

Sibarani menilai pelaksanaan Nuba menunjukkan kuatnya hubungan antara kehidupan masyarakat adat Kalimantan dengan alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Namun di balik kekayaan tradisi tersebut, menurut Sibarani, terdapat pesan yang tidak boleh diabaikan, yakni kondisi kemarau panjang yang mulai berdampak langsung terhadap kebutuhan dasar masyarakat, khususnya ketersediaan air.

“Nuba adalah bagian dari kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun dan tentu harus kita hormati. Tetapi ketika masyarakat melaksanakan ritual ini di tengah kemarau panjang dan kesulitan mendapatkan air, bagi saya ini juga menjadi alarm bagi kita semua bahwa ada kebutuhan masyarakat yang harus mendapatkan perhatian,” kata Sibarani.

Baca juga:Franciscus Sibarani Dukung Borneo Legallia Forum ke III, Apresiasi Ruang Kritis Mahasiswa Hukum Kalimantan

Nuba, Tradisi Mencari Ikan dan Memohon Hujan

Dalam pelaksanaannya, masyarakat bersama-sama mencari akar tuba dari hutan. Akar tersebut kemudian dipukul hingga mengeluarkan getah, yang selanjutnya digunakan dalam proses tradisional mencari ikan di sungai.

Namun, bagi masyarakat adat, Nuba tidak semata-mata dimaknai sebagai aktivitas mencari ikan.

Di dalamnya terdapat ritual adat, kebersamaan dan gotong royong masyarakat, sekaligus permohonan kepada Sang Pencipta agar hujan kembali turun setelah kemarau berlangsung cukup panjang.

Kondisi tersebut menjadi semakin bermakna ketika masyarakat menghadapi kesulitan memperoleh air akibat sumber-sumber air yang berkurang selama musim kemarau.

Sibarani mengatakan, tradisi seperti Nuba memperlihatkan bagaimana masyarakat adat sejak dahulu membangun hubungan yang sangat dekat dengan alam.

“Bagi masyarakat adat, sungai, hutan dan sumber air bukan hanya bagian dari lingkungan, tetapi bagian dari kehidupan mereka. Karena itu, ketika alam mengalami perubahan, yang pertama merasakan dampaknya justru masyarakat yang kehidupannya sangat bergantung kepada alam tersebut,” ujarnya.

Baca juga:Dukung Karya Sosial Paroki St. Christophorus, Franciscus Sibarani Dukung Pembangunan Rumah Layak Huni di Kabupaten Mempawah

Sibarani: Hormati Adat, Perhatikan Kebutuhan Air Masyarakat

Sebagai Anggota DPR RI asal Kalimantan Barat, Sibarani memandang kondisi yang terjadi di Riam Bunut dan Kalimantan perlu dilihat dari dua sisi.

Pertama, pentingnya menjaga dan menghormati tradisi serta kearifan lokal masyarakat adat yang telah diwariskan lintas generasi.

Kedua, adanya persoalan nyata berupa kesulitan memperoleh air yang harus menjadi perhatian pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terkait.

Menurut Sibarani, masyarakat tidak boleh dibiarkan menghadapi dampak kemarau panjang sendirian.

“Kita menghormati doa dan ikhtiar masyarakat melalui adat yang mereka yakini. Pada saat yang sama, negara melalui pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat, terutama air bersih, tetap dapat terpenuhi,” kata Sibarani.

Baca juga:Dari Sekucing Labai Kabupaten Ketapang di Pedalaman Kalimantan Barat, Franciscus Sibarani Hidupkan Kembali Mimpi Kuliah Dhenty Yang Tertunda

Ia menilai pemerintah daerah dan instansi terkait perlu memetakan wilayah-wilayah yang mulai mengalami kekurangan air akibat kemarau, khususnya desa-desa yang memiliki keterbatasan infrastruktur dan akses terhadap sumber air bersih.

Perhatian terhadap persoalan tersebut, menurutnya, tidak semestinya hanya muncul ketika kondisi sudah memasuki tahap darurat.

“Yang harus kita bangun adalah kepekaan. Ketika dari desa sudah muncul tanda-tanda masyarakat mulai kesulitan mendapatkan air, respons dan antisipasi harus dilakukan lebih awal,” ujarnya.

Kearifan Lokal dan Pesan Menjaga Alam

Bagi Sibarani, Nuba juga mengandung pesan yang lebih luas mengenai hubungan manusia dengan lingkungan.

Tradisi masyarakat adat tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sungai dan hutan. Karena itu, keberlangsungan budaya juga sangat bergantung pada keberlangsungan ekosistem tempat masyarakat tersebut hidup.

Sibarani mengingatkan bahwa pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam harus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan serta kehidupan masyarakat lokal dan masyarakat adat.

“Kita sering berbicara tentang menjaga budaya, tetapi budaya itu juga mempunyai ruang hidup. Kalau sungainya rusak, hutannya hilang, atau sumber airnya tidak lagi tersedia, perlahan ruang hidup dari tradisi itu juga ikut hilang,” kata Sibarani.

Menurutnya, menjaga masyarakat adat tidak cukup hanya dengan memberikan ruang ketika upacara adat berlangsung. Yang juga harus dijaga adalah lingkungan, sumber air, hutan dan ruang hidup yang memungkinkan tradisi tersebut terus diwariskan.

Baca juga:Franciscus Sibarani Akhiri Penantian Panjang Umat Stasi Bawat Keuskupan Agung Pontianak, Gereja Baru Akhirnya Berdiri

Nuba Jadi Pengingat Bersama

Sibarani berharap kondisi yang terjadi di Riam Bunut dapat menjadi pengingat bagi semua pihak mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi dampak musim kemarau, terutama di daerah pedalaman Kalimantan Barat.

Ia juga menyampaikan penghormatan kepada para tetua adat serta masyarakat yang terus mempertahankan tradisi dan nilai gotong royong di tengah perubahan zaman.

“Saya melihat Nuba bukan sekadar sebuah ritual mencari ikan. Ada kebersamaan, ada penghormatan kepada alam, ada doa dan ada harapan masyarakat agar hujan segera turun. Kita menghormati itu. Dan dari sisi lain, kita juga harus mendengar pesan yang sedang disampaikan oleh keadaan: masyarakat membutuhkan air dan lingkungan kita perlu terus dijaga,” tegas Sibarani.

Sibarani berharap hujan segera turun dan kondisi masyarakat yang mengalami kesulitan air dapat segera membaik.

Ia juga mendorong adanya perhatian bersama terhadap ketersediaan air bersih serta perlindungan terhadap sumber-sumber air dan lingkungan yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat pedalaman Kalimantan Barat.

“Tradisi Nuba mengajarkan kita bahwa manusia tidak berdiri sendiri. Ada alam yang harus dijaga, ada adat yang harus dihormati, dan ada masyarakat yang kebutuhan dasarnya tidak boleh diabaikan,” pungkas Sibarani.

Penulis

Kang Rois
Kang Rois
Rois Saman merupakan penulis dan editor di Zonakalbar.com yang aktif mengulas berbagai isu, mulai dari berita daerah Kalimantan Barat, politik, pemerintahan, olahraga, pendidikan, hingga informasi publik. Dengan mengedepankan akurasi, kecepatan, dan keberimbangan informasi, Rois Saman berkomitmen menghadirkan berita yang terpercaya, mudah dipahami, dan bermanfaat bagi masyarakat. Melalui Zonakalbar.com, ia turut berkontribusi menyajikan informasi terkini yang relevan bagi pembaca di Kalimantan Barat maupun Indonesia.
Visited 1 times, 1 visit(s) today
Ringkasan Konten

Tinggalkan Balasan