800 Tahun Santo Fransiskus dari Assisi, Franciscus Sibarani: Semangatnya Hidup Lebih dari Seabad di Bumi Kalimantan Barat

PONTIANAK, ZONAKALBAR.COM – Delapan abad setelah wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi, semangat kesederhanaan, persaudaraan, pelayanan kepada sesama dan kecintaan terhadap alam yang diwariskannya tetap hidup. Di Kalimantan Barat, semangat itu bahkan memiliki perjalanan sejarah yang panjang melalui pelayanan Ordo Saudara Dina Kapusin (OFMCap).

Baca juga:Masuki Bulan Rosario, Franciscus Sibarani: Tradisi Devosi Umat Katolik Kalbar adalah Sukacita Iman yang Terus Hidup

Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Daerah Pemilihan Kalimantan Barat I, Franciscus Sibarani, mengatakan peringatan 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi pada 2026 memiliki makna tersendiri bagi umat Katolik di Kalimantan Barat.

Menurut Sibarani, masyarakat Kalbar tidak hanya mengenal spiritualitas Fransiskan dari buku atau cerita tentang Assisi. Semangat tersebut telah hadir dan bertumbuh bersama masyarakat melalui karya para Kapusin selama lebih dari satu abad di Bumi Khatulistiwa.

“Kalau kita berbicara tentang Santo Fransiskus di Kalimantan Barat, kita juga berbicara tentang jejak panjang para Kapusin. Mereka hadir bukan kemarin sore. Lebih dari satu abad mereka berjalan bersama umat, masuk ke kampung-kampung, mendampingi masyarakat dan ikut mengambil bagian dalam perjalanan Kalimantan Barat,” kata Sibarani.

Baca juga:Di Tengah Era AI dan Modernitas, Franciscus Sibarani Apresiasi Kebersamaan Umat dalam Perayaan Santo Pelindung Lingkungan Santo Robertus Belarminus, Paroki Bunda Maria Jeruju

Dari Singkawang, Pontianak hingga Pedalaman Kalbar

Jejak misi Kapusin di Kalimantan Barat memiliki sejarah panjang. Pada 1905, para misionaris Kapusin tiba di Singkawang dan kemudian mengembangkan pelayanan ke berbagai wilayah.

Pelayanan itu tidak berhenti di kota-kota pesisir. Para misionaris bergerak menuju pedalaman, melewati sungai, jalan dan medan yang pada masa itu jauh lebih sulit dibandingkan sekarang.

Dari perjalanan panjang tersebut, karya Kapusin kemudian bertumbuh di berbagai wilayah yang akrab bagi masyarakat Kalbar, mulai dari Pontianak, Singkawang, Nyarumkop, Pahauman, Ngabang, Pusat Damai hingga Sanggau dan daerah-daerah sekitarnya.

Bagi Sibarani, nama-nama tempat tersebut membuat sejarah Kapusin bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Kalimantan Barat.

Baca juga:Bahaya Kabut Asap Karhutla bagi Kesehatan, Jangan Anggap Sepele

“Bagi banyak keluarga Katolik di Kalbar, nama seperti Nyarumkop, Pahauman, Ngabang, Pusat Damai atau Sanggau bukan sekadar titik di peta. Di sana ada cerita tentang sekolah, asrama, gereja, para pastor dan bruder, serta generasi-generasi masyarakat yang bertumbuh bersama pelayanan Gereja,” ujarnya.

Masuk Kampung, Hidup Bersama Masyarakat

Sibarani mengatakan salah satu warisan yang paling berharga dari perjalanan tersebut adalah keberanian para misionaris untuk hadir langsung di tengah masyarakat.

Pada masa ketika akses transportasi masih sangat terbatas, pelayanan menuntut perjalanan panjang untuk mencapai kampung-kampung dan komunitas di pedalaman.

Di berbagai tempat, kehadiran misionaris kemudian berkembang tidak hanya dalam pelayanan sakramental, tetapi juga pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat.

“Kalau hari ini kita bisa mencapai banyak daerah dengan kendaraan dalam hitungan jam, bayangkan bagaimana para pendahulu dulu masuk ke pedalaman. Sungai menjadi jalan, perjalanan bisa sangat panjang, tetapi umat tetap didatangi. Semangat untuk hadir itulah yang menurut saya sangat Fransiskan,” kata Sibarani.

Baca juga:Remaja Masjid Al Falah Bagikan 5.000 Masker untuk Warga Terdampak Kabut Asap Karhutla

Ia menilai sejarah tersebut juga memiliki hubungan yang erat dengan perjalanan masyarakat Dayak di berbagai wilayah Kalimantan Barat.

Gereja bertumbuh bersama masyarakat lokal, sementara pendidikan menjadi salah satu pintu penting yang kemudian melahirkan generasi-generasi baru dari pedalaman Kalbar.

“Yang diwariskan bukan hanya bangunan gereja. Ada manusia yang dididik, ada anak-anak kampung yang memperoleh kesempatan belajar, ada masyarakat yang didampingi. Buahnya kemudian menjadi guru, tenaga kesehatan, pelayan Gereja, aparatur pemerintah dan berbagai profesi lainnya,” ujarnya.

Santo Fransiskus dan Alam Kalimantan

Menurut Sibarani, ada satu bagian dari spiritualitas Santo Fransiskus yang terasa sangat dekat dengan Kalimantan Barat, yakni persaudaraan dengan seluruh ciptaan.

Kalbar dianugerahi hutan tropis, sungai-sungai besar dan kekayaan alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Namun pada saat yang sama, daerah ini juga terus berhadapan dengan persoalan kebakaran hutan dan lahan, kerusakan lingkungan serta tantangan pengelolaan sumber daya alam.

Karena itu, menurut Sibarani, pesan Santo Fransiskus tentang menjaga ciptaan tidak boleh dipandang sekadar sebagai pesan religius dari delapan abad lalu.

“Bagi orang Kalimantan, hutan dan sungai itu dekat sekali dengan kehidupan kita. Banyak masyarakat kita tumbuh dari sana, mencari penghidupan dari sana dan mewariskan kehidupan melalui alam yang sama. Karena itu, mencintai ciptaan bagi kita bukan konsep yang jauh,” katanya.

Baca juga:Profil Sujiwo Bupati Kubu Raya yang Tumbuh dari Kampung

Sibarani mengatakan semangat tersebut harus diwujudkan dalam keberanian menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

“Kalimantan boleh maju, investasi boleh tumbuh, jalan dan industri boleh berkembang. Tetapi hutan, sungai dan tanah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat juga harus kita jaga. Jangan sampai kemajuan hari ini dibayar dengan kehilangan yang harus ditanggung anak cucu kita,” tegasnya.

Dari Misionaris Asing hingga Saudara Kapusin Putra Kalbar

Sibarani juga melihat perjalanan Kapusin di Kalimantan Barat sebagai cerita tentang proses panjang kemandirian Gereja lokal.

Pelayanan yang pada awalnya banyak dijalankan misionaris dari Eropa perlahan bertumbuh dan melahirkan panggilan-panggilan dari Indonesia, termasuk putra-putra daerah.

Kapusin Pontianak kemudian berdiri sebagai provinsi tersendiri pada 21 Februari 1994 dengan nama Provinsi Santa Maria Ratu Para Malaikat.

Menurut Sibarani, perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana benih yang ditanam lebih dari satu abad lalu kini telah tumbuh menjadi bagian dari Kalimantan Barat sendiri.

“Dulu orang datang dari negeri yang sangat jauh untuk melayani masyarakat kita. Hari ini banyak putra daerah sendiri yang mengenakan jubah Kapusin dan melanjutkan pelayanan itu. Bagi saya, itulah salah satu buah indah dari perjalanan panjang tersebut,” katanya.

Baca juga:Franciscus Sibarani Libatkan BEM FH Untan di P5HAM: Mahasiswa Harus Diberi Ruang Belajar Lewat Pengalaman

800 Tahun, Pesannya Tetap Hidup di Bumi Khatulistiwa

Bagi Sibarani, memperingati 800 tahun Santo Fransiskus bukan berarti sekadar mengenang seseorang yang hidup jauh di Assisi delapan abad silam.

Peringatan tersebut menjadi kesempatan melihat kembali bagaimana nilai-nilainya diteruskan dan mengambil bentuk nyata sesuai zaman dan tempat.

Di Kalimantan Barat, semangat tersebut dapat ditemukan dalam kesederhanaan pelayanan, pendidikan, keberanian menjangkau pedalaman, persaudaraan dengan masyarakat, kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan serta perhatian terhadap lingkungan.

“Delapan ratus tahun setelah Santo Fransiskus, semangatnya ternyata tidak berhenti di Assisi. Ia menyeberangi benua dan samudra, sampai ke Bumi Khatulistiwa, lalu hidup bersama masyarakat kita,” ujar Sibarani.

“Sebagai bagian dari Kalimantan Barat dan sebagai seorang Katolik, saya melihat warisan itu dengan rasa syukur. Terima kasih kepada para misionaris terdahulu dan seluruh saudara Kapusin yang sampai hari ini terus melayani. Mereka telah menjadi bagian dari perjalanan umat dan masyarakat Kalimantan Barat,” lanjutnya.

Baca juga:Franciscus Sibarani: Tujuh UU Baru Daerah Kalbar Harus Bermuara pada Pelayanan dan Pembangunan yang Lebih Baik

Sibarani berharap momentum 800 tahun Santo Fransiskus menjadi ajakan bagi seluruh umat untuk meneruskan nilai yang diwariskannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Tidak semua dari kita dipanggil menjadi imam atau biarawan. Tetapi kita semua bisa menjadi saudara bagi sesama. Membantu yang kecil, menjaga persaudaraan di tengah perbedaan, merawat alam dan membawa damai di tempat kita masing-masing. Saya kira itulah cara terbaik membuat semangat Santo Fransiskus terus hidup di Kalimantan Barat,” tutup Franciscus Sibarani.

Penulis

Kang Rois
Kang Rois
Rois Saman merupakan penulis dan editor di Zonakalbar.com yang aktif mengulas berbagai isu, mulai dari berita daerah Kalimantan Barat, politik, pemerintahan, olahraga, pendidikan, hingga informasi publik. Dengan mengedepankan akurasi, kecepatan, dan keberimbangan informasi, Rois Saman berkomitmen menghadirkan berita yang terpercaya, mudah dipahami, dan bermanfaat bagi masyarakat. Melalui Zonakalbar.com, ia turut berkontribusi menyajikan informasi terkini yang relevan bagi pembaca di Kalimantan Barat maupun Indonesia.
Visited 1 times, 1 visit(s) today
Ringkasan Konten

Tinggalkan Balasan