KETAPANG, ZONAKALBAR.COM – Franciscus Sibarani mengapresiasi pelaksanaan Gawai Nyapat Taunt XV Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, yang dipusatkan di Balai Berkuak. Menurutnya, kegiatan adat tersebut bukan hanya menjadi ruang perayaan budaya, tetapi juga momentum penting untuk merawat identitas, memperkuat persatuan, dan menggali potensi generasi muda.
Sibarani menilai, Gawai Nyapat Taunt merupakan bagian dari kekayaan budaya Kalimantan Barat yang harus terus dijaga. Tradisi tersebut lahir dari kehidupan masyarakat adat yang memiliki hubungan erat dengan alam, kerja bersama, rasa syukur, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
“Budaya adalah akar. Jika akar itu kuat, maka generasi muda akan memiliki pijakan yang kokoh untuk tumbuh, belajar, dan membangun masa depan. Karena itu, Gawai Nyapat Taunt harus terus dijaga sebagai ruang pembelajaran dan penguatan identitas,” ujar Sibarani.
Baca juga:Dukung BPIP, Franciscus Sibarani Minta Negara Perkuat Anggaran Pembinaan Pancasila
Menurutnya, budaya tidak boleh dipandang hanya sebagai peninggalan masa lalu. Budaya justru harus menjadi sumber nilai, inspirasi, dan pengetahuan bagi generasi hari ini. Melalui kegiatan seperti Gawai Nyapat Taunt, anak-anak muda dapat belajar tentang sejarah, adat, gotong royong, kepemimpinan, tanggung jawab sosial, serta pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan sesama dan lingkungan.
Sibarani menyebut, generasi muda perlu dikenalkan kembali pada akar budayanya. Sebab, di tengah perubahan zaman, kemajuan teknologi, dan derasnya arus globalisasi, anak muda membutuhkan dasar yang kuat agar tidak kehilangan jati diri.
“Orang muda harus maju, harus terbuka terhadap perubahan, tetapi tidak boleh tercerabut dari akar budayanya. Budaya memberi arah, memberi karakter, dan memberi nilai. Dari sanalah potensi generasi muda bisa digali dan dikembangkan,” katanya.
Baca juga:Hak Siar Rp1,3 Triliun Tidak Boleh Berujung pada Beban Tambahan bagi Masyarakat
Ia menilai, Gawai Nyapat Taunt juga menjadi ruang yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat. Dalam kegiatan adat, masyarakat tidak hanya berkumpul untuk merayakan tradisi, tetapi juga memperkuat ikatan sosial, menjaga persaudaraan, dan membangun kesadaran bersama bahwa budaya adalah milik bersama yang harus diwariskan.
Sibarani mengapresiasi masyarakat adat Dayak Simpang Hulu, para tokoh adat, pemerintah daerah, panitia, serta seluruh pihak yang terus menjaga keberlangsungan Gawai Nyapat Taunt. Menurutnya, konsistensi masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan budaya menjadi bukti bahwa adat masih hidup dan memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.
“Gawai seperti ini memperlihatkan bahwa budaya bukan hanya tontonan, tetapi tuntunan. Di dalamnya ada nilai kerja keras, kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, rasa syukur, dan persatuan. Nilai-nilai itulah yang harus terus ditanamkan kepada generasi muda,” ujarnya.
Sibarani juga mendorong agar kegiatan budaya seperti Gawai Nyapat Taunt dapat semakin melibatkan anak-anak muda, baik sebagai peserta, panitia, pelaku seni, pendokumentasi, maupun penggerak kegiatan. Menurutnya, keterlibatan generasi muda sangat penting agar budaya tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi terus hidup dan berkembang mengikuti zaman.
Ia menyebut, anak muda dapat mengambil peran besar dalam memperkenalkan budaya daerah melalui kreativitas, seni pertunjukan, media digital, dokumentasi visual, produk ekonomi kreatif, hingga promosi pariwisata budaya. Dengan demikian, budaya lokal tidak hanya lestari, tetapi juga dapat menjadi sumber kebanggaan dan peluang bagi masyarakat.
Baca juga:10 Wisata Terindah di Kalbar yang Wajib Dikunjungi, Surga Alam Tersembunyi Indonesia
“Generasi muda harus diberi ruang untuk terlibat. Mereka bisa menjadi penjaga budaya, sekaligus pembawa budaya ke ruang yang lebih luas. Dengan kreativitas anak muda, budaya Simpang Hulu bisa dikenal lebih jauh tanpa kehilangan nilai aslinya,” kata Sibarani.
Menurutnya, Kalimantan Barat memiliki kekayaan budaya yang sangat besar. Setiap daerah memiliki tradisi, bahasa, seni, ritual, dan kearifan lokal yang menjadi bagian dari wajah Indonesia. Kekayaan tersebut harus dirawat bukan hanya sebagai warisan, tetapi juga sebagai modal sosial dan kekuatan pembangunan.
Sibarani menegaskan, pembangunan daerah tidak boleh hanya dilihat dari infrastruktur fisik. Pembangunan juga harus menyentuh manusia, identitas, karakter, dan kebudayaan. Karena itu, kegiatan adat seperti Gawai Nyapat Taunt perlu terus mendapatkan dukungan agar menjadi ruang pembelajaran lintas generasi.
Baca juga:Bandara Supadio Pontianak Siapkan Rute Internasional Baru, Dorong Pariwisata dan Ekonomi Kalbar
“Ketika budaya dirawat, maka kita sedang merawat manusia. Ketika generasi muda mengenal budayanya, mereka akan lebih percaya diri, lebih menghargai asal-usulnya, dan lebih siap berkontribusi bagi daerahnya,” tegasnya.
Ia berharap Gawai Nyapat Taunt Simpang Hulu terus berkembang sebagai agenda budaya yang memperkuat persatuan masyarakat, menghidupkan nilai-nilai adat, serta membuka ruang bagi generasi muda untuk belajar dan berkarya.
“Budaya sebagai akar tidak boleh dilupakan. Dari akar itulah kita belajar siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita harus melangkah. Gawai Nyapat Taunt adalah pengingat bahwa masa depan yang kuat harus dibangun di atas dasar budaya yang kokoh,” pungkas Sibarani.

