KETAPANG, ZONAKALBAR.COM – Tim Franciscus Sibarani, yang diwakili oleh Yohanes Tola, menggelar kunjungan lapangan ke sejumlah wilayah di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, sejak 20 hingga 23 Mei 2026. Dalam agenda tersebut, tim menemui dan berdialog langsung dengan masyarakat di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Tumbang Titi, Pemahan, dan Sungai Melayu Rayak.
Baca juga:Tim Franciscus Sibarani Berdialog dan Dengar Harapan Warga Desa Semanyok Baru, Kabupaten Ketapang
Secara khusus, keluhan dan aspirasi ini muncul dari warga desa di wilayah-wilayah tersebut, meliputi Desa Tumbang Titi (Kecamatan Tumbang Titi), Desa Lalang Panjangdan Desa Kerta Baru (Kecamatan Pemahan), serta Desa Sungai Melayu (Kecamatan Sungai Melayu Rayak).
Kunjungan ini dilakukan guna menyerap aspirasi dan mendengarkan langsung kondisi riil yang sedang dihadapi oleh warga di tingkat tapak. Sepanjang rangkaian kegiatan, isu ekonomi dan kesejahteraan petani menjadi topik utama yang mendominasi ruang dialog antara perwakilan warga dari desa-desa tersebut dengan tim dari Anggota DPR RI Dapil Kalimantan Barat I tersebut.
Dalam dialog tersebut, masyarakat mengeluhkan merosotnya harga kelapa sawit secara drastis dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan laporan warga, harga sawit saat ini turun hingga menyentuh angka Rp2.200 per kilogram, dari yang sebelumnya sempat bertahan di posisi Rp3.100 per kilogram. Penurunan ini mencatat selisih hingga Rp900 per kilogram.
Baca juga:DPR Bahas RUU Desain Industri, Golkar Tekankan Perlindungan UMKM, IKM, dan Desainer Lokal
Kondisi penurunan harga kelapa sawit tersebut dilaporkan terjadi secara merata di hampir seluruh wilayah operasional perusahaan yang mencakup kecamatan-kecamatan di Kabupaten Ketapang tersebut. Pola penurunan yang seragam ini membuat dampak ekonomi langsung dirasakan oleh sebagian besar penduduk desa yang menggantungkan hidupnya pada sektor perkebunan tersebut.
Usman, salah seorang warga Desa Tumbang Titi, menyampaikan bahwa ketetapan harga sawit yang rendah ini memicu kecemasan mendalam di kalangan petani kelapa sawit mandiri maupun plasma. Situasi tersebut dinilai kian memberatkan lantaran terjadi di tengah kondisi harga pupuk di pasaran yang masih tergolong tinggi dan sulit dijangkau.
Lebih lanjut, Usman memaparkan dampak domino dari ketidakstabilan harga ini terhadap kemampuan finansial warga, khususnya terkait pemenuhan kewajiban perbankan. Banyak petani terancam mengalami hambatan dalam membayar angsuran kredit di bank maupun *Credit Union* (CU), terutama bagi mereka yang mengambil kredit kendaraan roda empat untuk armada pengangkut hasil panen sawit.
Menanggapi situasi tersebut, masyarakat di desa-desa yang berada di tiga kecamatan ini memanfaatkan momentum kunjungan lapangan untuk menitipkan aspirasi mereka kepada Tim Franciscus Sibarani. Warga berharap adanya intervensi atau jalan keluar konkret dari pemangku kebijakan agar fluktuasi harga kelapa sawit tidak terus-menerus merugikan para petani lokal.
