Buah Sulung Imam Dayak Keuskupan Ketapang Berpulang, Franciscus Sibarani : Pengabdiannya Akan Terus Hidup dalam Sejarah Gereja Kalbar

KETAPANG, ZONAKALBAR.COM – 12 Oktober 2026 Kepergian Pastor Zacharias Lintas, Pr., imam Dayak pertama sekaligus imam diosesan pertama Keuskupan Ketapang, Kalimantan Barat, meninggalkan duka mendalam bagi umat Katolik dan masyarakat Kalimantan Barat.

Baca juga:Franciscus Sibarani Sambut Peresmian Paroki Supadio, Harapkan Pelayanan Gereja Semakin Dekat dengan Umat

Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar dari Daerah Pemilihan Kalimantan Barat I, Franciscus Maria Agustinus Sibarani, turut menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya sosok yang memiliki tempat penting dalam sejarah perkembangan Gereja Katolik di Ketapang tersebut.

Pastor Zacharias Lintas meninggal dunia pada Sabtu, 10 Oktober 2026, pukul 04.56 WIB di Rumah Sakit Fatima, Ketapang, dalam usia 77 tahun. Almarhum dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan Gereja lokal dan dijuluki Buah Sulung Misi Keuskupan Ketapang.

“Atas nama pribadi dan keluarga, saya menyampaikan dukacita yang mendalam atas berpulangnya Pastor Zacharias Lintas. Kepergian beliau merupakan kehilangan besar, bukan hanya bagi umat Katolik Keuskupan Ketapang, tetapi juga bagi masyarakat Kalimantan Barat yang mengenal perjalanan panjang pengabdian beliau,” ujar Sibarani.

Baca juga:Hari Guru Sedunia, Franciscus Sibarani Tekankan Pentingnya Dukungan bagi Guru di Pedalaman

Menurut Sibarani, Pastor Lintas meninggalkan warisan yang jauh melampaui tugas pelayanan seorang imam. Kehadirannya sebagai imam pertama dari kalangan masyarakat Dayak di Ketapang menjadi tonggak sejarah yang menunjukkan bahwa putra-putri daerah, termasuk mereka yang berasal dari pedalaman, memiliki kesempatan untuk tumbuh, memperoleh pendidikan, dan mengambil peran penting dalam kehidupan masyarakat.

“Pastor Lintas adalah bagian dari sejarah. Dari tanah Dayak, beliau menjawab panggilan Tuhan dan kemudian membuka jalan bagi lahirnya generasi imam pribumi berikutnya. Perjalanan hidup beliau mengajarkan bahwa asal-usul dan kesederhanaan bukanlah batas bagi seseorang untuk mengabdikan hidupnya bagi Tuhan dan sesama,” kata Sibarani.

Berasal dari wilayah Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Pastor Zacharias Lintas ditahbiskan menjadi imam pada April 1978. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Keuskupan Ketapang karena menandai lahirnya imam Dayak pertama dari wilayah tersebut.

Baca juga:UU Reforma Agraria Jadi Momentum, Franciscus Sibarani Dorong Peta Jalan Penyelesaian Konflik Agraria Kalbar

Selama puluhan tahun menjalani panggilan imamat, Pastor Lintas mengemban berbagai tugas pelayanan Gereja. Kisah perjalanan hidupnya, sejak masa kecil di pedalaman hingga menjadi seorang imam, juga diabadikan dalam buku autobiografi berjudul Ziarah Sang Buah Sulung.

Bagi Sibarani, perjalanan tersebut merupakan pengingat tentang pentingnya pendidikan dalam membuka kesempatan bagi generasi muda Kalimantan Barat, khususnya mereka yang tumbuh di wilayah pedalaman.

“Di balik perjalanan panjang Pastor Lintas, ada kisah tentang pendidikan, ketekunan, dan keberanian untuk melangkah keluar dari keterbatasan. Saya berharap kisah hidup beliau terus diceritakan kepada generasi muda, terutama anak-anak kita di pedalaman Kalimantan Barat, agar mereka percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk meraih cita-cita dan memberikan sesuatu yang berarti bagi sesama,” ungkapnya.

Sibarani juga menilai bahwa pengabdian Pastor Lintas memperlihatkan bagaimana kehidupan beragama dapat berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap identitas dan kebudayaan daerah.

Sebagai seorang putra Dayak, Pastor Lintas membawa latar belakang budaya dan pengalaman hidup masyarakat pedalaman dalam perjalanan panggilannya. Kehadirannya menjadi bagian dari perkembangan Gereja Katolik yang semakin berakar dalam kehidupan masyarakat setempat.

Baca juga:800 Tahun Santo Fransiskus dari Assisi, Franciscus Sibarani: Semangatnya Hidup Lebih dari Seabad di Bumi Kalimantan Barat

“Beliau telah memberikan teladan bahwa iman, budaya, dan pengabdian kepada sesama dapat berjalan bersama. Sebuah warisan yang patut dikenang dan diteruskan, bukan hanya oleh para imam dan umat Katolik, tetapi juga oleh kita semua dalam kehidupan bermasyarakat,” lanjut Sibarani.

Menutup pernyataannya, Sibarani mengajak umat Katolik untuk mendoakan almarhum serta memberikan penghiburan dan kekuatan bagi keluarga, para imam, serta seluruh umat Keuskupan Ketapang yang berduka.

“Terima kasih, Pastor Lintas, atas seluruh pengabdian dan kesetiaan dalam menjalani panggilan imamat. Apa yang telah beliau tanamkan selama hidup kiranya terus bertumbuh dan menghasilkan buah bagi generasi selanjutnya. Selamat jalan, Pastor Lintas. Semoga Tuhan menerima segala karya dan pengabdian beliau serta menganugerahkan kedamaian abadi di rumah Bapa,” tutup Sibarani.

Requiescat in Pace.

Penulis

Kang Rois
Kang Rois
Rois Saman merupakan penulis dan editor di Zonakalbar.com yang aktif mengulas berbagai isu, mulai dari berita daerah Kalimantan Barat, politik, pemerintahan, olahraga, pendidikan, hingga informasi publik. Dengan mengedepankan akurasi, kecepatan, dan keberimbangan informasi, Rois Saman berkomitmen menghadirkan berita yang terpercaya, mudah dipahami, dan bermanfaat bagi masyarakat. Melalui Zonakalbar.com, ia turut berkontribusi menyajikan informasi terkini yang relevan bagi pembaca di Kalimantan Barat maupun Indonesia.
Visited 1 times, 1 visit(s) today
Ringkasan Konten

Tinggalkan Balasan