KUBU RAYA, ZONAKALBAR.COM — Lulus sekolah, memperoleh pekerjaan, dan memiliki penghasilan sendiri mungkin menjadi impian banyak siswa sekolah menengah kejuruan (SMK). Namun, di balik harapan tersebut, ada pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah mereka telah memiliki karakter yang cukup kuat untuk menghadapi kehidupan setelah meninggalkan bangku sekolah?
Kemampuan mengelola emosi, menjaga kepercayaan, menghargai perbedaan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab tidak selalu dapat diukur melalui nilai rapor atau sertifikat keahlian. Padahal, kemampuan-kemampuan itulah yang kerap menentukan bagaimana seseorang bertahan dan berkembang ketika berhadapan dengan tantangan dunia nyata.
Kesadaran tersebut menjadi salah satu landasan persiapan COMPASS, sebuah program penguatan karakter generasi muda Muslim yang tengah dimatangkan oleh mahasiswi semester III Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak.
Mengusung semangat Be Better. Be a Better Muslim. Make an Impact., kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Karya Tulis Ilmiah ini direncanakan berlangsung di SMKS Pancasila, Desa Sungai Ambangah, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Program tersebut dimentori oleh Syamsul Kurniawan, dosen Pascasarjana IAIN Pontianak yang juga menjabat Ketua Komisi Pendidikan Keagamaan Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat.
Menurut Kurniawan, pendidikan kejuruan memiliki tanggung jawab penting untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dalam bidang keterampilan sekaligus matang dalam sikap dan perilaku.
“Anak-anak SMK memang dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja. Tetapi, kita tidak boleh melupakan bahwa dunia kerja juga membutuhkan kejujuran, kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, dan pengendalian emosi. Keterampilan bisa mengantarkan seseorang memperoleh pekerjaan, tetapi karakter ikut menentukan bagaimana ia mempertahankan kepercayaan dan berkembang di dalamnya,” demikian draf pernyataan Kurniawan.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan tidak harus dimaknai sebagai kemampuan mengatur orang lain atau menduduki suatu jabatan. Kepemimpinan justru dimulai dari kemampuan seseorang mengendalikan dirinya sendiri.
“Sebelum anak-anak ini menjadi pemimpin di tempat kerja, dalam keluarga, atau di tengah masyarakat, mereka harus terlebih dahulu mampu memimpin dirinya sendiri. Mereka perlu memahami apa yang benar, berani memilihnya, dan memiliki akhlak yang baik dalam menjalani kehidupan,” lanjutnya.
Penulis


- Rois Saman merupakan penulis dan editor di Zonakalbar.com yang aktif mengulas berbagai isu, mulai dari berita daerah Kalimantan Barat, politik, pemerintahan, olahraga, pendidikan, hingga informasi publik. Dengan mengedepankan akurasi, kecepatan, dan keberimbangan informasi, Rois Saman berkomitmen menghadirkan berita yang terpercaya, mudah dipahami, dan bermanfaat bagi masyarakat. Melalui Zonakalbar.com, ia turut berkontribusi menyajikan informasi terkini yang relevan bagi pembaca di Kalimantan Barat maupun Indonesia.
- Oktober 19, 2026Cerita & OpiniKEPATUHAN SYARIAH DALAM MEMBAYAR ZAKAT MASYARAKAT MUSLIM PESISIR KEPULAUAN DI KECAMATAN PULAU MAYA: SEBUAH KONSTRUKSI SOSIAL
- Oktober 19, 2026BeritaPT GAN Turun Tangan Bantu Pemadaman Karhutla di Lima Desa Kubu Raya
- Oktober 19, 2026BeritaBKOW Kalbar Luncurkan GATI: Perkuat Peran Keluarga Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak di Era Digital
- Oktober 19, 2026Cerita & OpiniKonstruksi Sosial Hukum Adat Melayu Buyan: Penyatuan Tradisi dan Islam Demi Harmoni


1 komentar