ZONA KALBAR COM – Di puncak bukit yang anginnya selalu berhembus dingin, berdiri sebuah istana berwarna kelabu. Dindingnya dibangun dari batu-batu besar yang kasar, diukir dengan gambar-gambar singa dan elang yang seolah siap menerkam siapa saja yang lewat. Di dalam ruang utama, cahaya hanya masuk lewat celah-celah jendela tinggi, membentuk garis-garis cahaya yang jatuh tepat di atas singgasana yang terbuat dari kayu hitam berhiaskan emas.
Baca juga: Sinopsis film Sukma Cerita horor 2025
Di atas singgasana itu duduk Raja Aditya. Wajahnya yang dulu tampan kini dipenuhi garis-garis kerutan akibat pikiran yang tak pernah tenang. Matanya berkilau tajam, bagaikan mata burung pemangsa yang selalu mengawasi sekeliling. Tangannya yang kerap menggenggam tongkat kerajaan, kini bergetar sedikit setiap kali ada suara langkah kaki mendekat. Baginya, setiap orang adalah ancaman yang berusaha merebut apa yang dianggap miliknya.
Setiap hari, halaman istana dipenuhi dengan suara teriakan dan langkah pasukan yang berbaris rapi. Bendera kerajaan berkibar tinggi, menampakkan lambang mahkota yang seolah ingin menutupi seluruh langit. Raja Aditya terus memperluas wilayah kekuasaannya. Ia mengirim pasukan ke desa-desa jauh, menguasai tanah-tanah subur dan mengumpulkan segala hasil bumi. Suara tangis rakyat yang kehilangan tempat tinggal bagaikan alunan musik baginya, tanda bahwa kekuasaannya semakin kuat.
Baca juga: Opini Penggunaan Media Digital Di Daerah Terpencil
Ruang kerjanya dipenuhi tumpukan peta wilayah dan dokumen perintah. Udara di sana terasa pengap, bercampur aroma lilin yang menyala sepanjang waktu. Ia jarang tidur, lebih sering duduk memikirkan cara agar kekuasaannya tak pernah berakhir. Ia membangun tembok-tembok tinggi di sekeliling istana, menempatkan penjaga di setiap sudut, seolah dunia luar adalah musuh yang siap menyerang setiap saat.
Baca juga: Para Pemuja Penguasa
Namun seiring waktu, kemegahan itu perlahan memudar. Batu istana mulai retak diterpa angin dan hujan. Tak ada lagi tawa atau obrolan hangat yang terdengar di dalamnya. Raja Aditya kini hidup sendirian, dikelilingi benda-benda berharga namun kosong makna. Kekuasaan yang ia kejar seumur hidup akhirnya hanya meninggalkan kesunyian yang menyelimuti dirinya, bagaikan kabut tebal yang tak kunjung hilang.
Penulis


- Rois Saman merupakan penulis dan editor di Zonakalbar.com yang aktif mengulas berbagai isu, mulai dari berita daerah Kalimantan Barat, politik, pemerintahan, olahraga, pendidikan, hingga informasi publik. Dengan mengedepankan akurasi, kecepatan, dan keberimbangan informasi, Rois Saman berkomitmen menghadirkan berita yang terpercaya, mudah dipahami, dan bermanfaat bagi masyarakat. Melalui Zonakalbar.com, ia turut berkontribusi menyajikan informasi terkini yang relevan bagi pembaca di Kalimantan Barat maupun Indonesia.
- Agustus 6, 2026BeritaFranciscus Sibarani Dorong Perluasan Akses Pendidikan sebagai Upaya Cegah Pernikahan Dini di Kalbar
- Agustus 6, 2026BeritaFasilitasi Kuliah ke Tiongkok, Franciscus Sibarani Ajak Orang Tua Dukung Pendidikan Anak
- Agustus 4, 2026BeritaFranciscus Sibarani Akhiri Penantian Panjang Umat Stasi Bawat Keuskupan Agung Pontianak, Gereja Baru Akhirnya Berdiri
- Agustus 4, 2026BeritaLama Terbengkalai, Kini Gereja Berdiri Kokoh : Franciscus Sibarani Wujudkan Politik Bonum Commune di Stasi Bawat Desa Pahonk LANDAK

